Jamie Vardy membuka goal pertamanya di ajang Liga Champions

Seville – Walaupun kalah dikandang Sevilla namun Jamie Vardy berhasil membobol gawang kubu tuan rumah, hasil akhir 2-1 masih membuka peluang bagi The Foxes untuk terus berada dalam kompetisi satu-satunya yang tersisa di Liga Champions ini, kawanan Rubah dari kota Leicester ini sudah tersisihkan didua kompetisi domestic Piala Liga Inggris dan juga FA Cup kemudian di Premier League mereka harus berjuang keras untuk tidak terdegrarasi diakhir musim nanti.

Dihadapan pendukung setia mereka Sevilla bermain dengan sangat aggresif semenjak pertandingan dimulai, hampir membuka kemenangan dimenit ke 14 ketika Clemen Turpin wasit pemimpin pertandingan menunjuk titik putih saat Wes Morgan menjatuhkan Joaquin Correa didalam kotak penaty.

Namun berkat kepiawaian Kasper Schmeichel eksekusi penalty yang dilakukan oleh Joaquin Correa dapat digagalkan, baru 11 menit kemudian sebuah sundulan yang dilakukan Pablo Sarabia menerima umpan dari Sergio Escudero berhasil membuka kemenangan untuk Sevilla, score 1-0 menutup pertandingan dibabak pertama.

Tempo pertandingan tidak menurun ketika memasuki babak kedua, para pemain Jorge Sampaoli benar-benar memaksimalkan pertandingan dikandang sendiri dengan terus mendominasi jalannya pertandingan, perbandingan persentase 68:32 adalah  angka yang tercatat dengan 20 upaya tendangan bola terjadi yang 8 darinya tepat mengarah gawang, sedang kubu si Rubah hanya mencatat 5 shooting kearah gawang dengan 2 tembakan on target.

Gagal membuat goal dari titik putih penalty pada akhirnya dapat dibayar tunai Joaquin Correa ketika dia berhasil menjaringkan bola kegawang Kasper dimenit ke 62, sebuah assist dari Stevan Jovetic mampu disempurnakan olehnya menjadikan goal kedua buat kemenangan Sevilla, 11 menit setelahnya giliran Jamie Vardy berhasil mencuri kesempatan mencetak goal manfaatkan assist dari Danny Drinkwater.

Top scorer The Foxes dimusim silam terlihat kesulitan mencari goal dimusim kali ini, usai antarkan rombongan Rubah juarai kompetisi Premier League musim lalu Jamie Vardy harus melewati masa paceklik goal, penantian sepanjang 748 menit pertandingan disegala ajang kompetisi untuknya kembali mencetak goal adalah sebuah penantian cukup panjang.

Selain membuka peluang bagi Leicester City dengan goal yang dihadirkannya di Stadium Ramon Sanchez Pizjuan dileg pertama ini, goal Jamie Vardy ini memiliki nilai sejarah tersendiri bagi striker kelahiran kota Sheffield Inggris ini dimana ini adalah untuk pertama kalinya dia mencetak goal dikompetisi Liga Champions.

“Goal ini sangat berarti bagi saya, ini adalah untuk pertama kalinya saya mampu mencetak goal dalam kompetisi dengan klub-klub terbaik didaratan Eropa, dan saya ingin katakan kalau goal ini saya persembahkan untuk anak saya Finley, dia selalu menjadi motivasi saya untuk tampil habis disetiap pertandingan untuk mendapatkan goal kemenangan” ujar Vardy.

Laga balik kandang berikut akan berlangsung di King Power Stadium pada pertengahan maret 2017 mendatang, pasukan Claudio Ranieri hanya butuh mencari 1 goal saja dipertandingan nanti untuk memastikan langkah mereka lolos kebabak 8 besar, pekerjaan yang tampaknya mudah tapi tim yang akan mereka hadapi adalah Sevilla dipenghuni posisi ketiga klasemen sementara La Liga saat ini.

 

Claudio Ranieri mengenang sukses ‘1001’ malam The Foxes

Leicester – “Musim lalu adalah musim impian bagi kami ketika kami yang tidak diperhitungkan dapat keluar sebagai juara Premier League”, ini ungkapan Claudio Ranieri ketika dalam sebuah kesempatan wawancara dengan awak media, “Pada awalnya kami hanya ingin mencapai hasil terbaik  dan ketika kami sudah raih 40 point ada sebuah tantangan baru muncul dibenak, kenapa tidak kami mencoba untuk buat kejutan?”

Sebagai seorang pelatih kawakan yang sudah memulai karier semenjak tahun 1986 The Foxes adalah klub ke 15 yang dilatihnya sepanjang perjalanan, banyak sudah dirinya memenangkan penghargaan ketika menjalankan tugasnya, namun pencapaian dimusim 2015-16 bersama Leicester City adalah yang paling berkesan baginya.

Bukan saja karena mampu menjuarai sebuah liga besar yang paling digandrungi tapi mampu mengalahkan pamor duo Manchester, Arsenal, Liverpool, Spurs adalah sebuah kebanggaan lainnya yang dirasakan, dan yang paling membumbung adalah berhasilnya dia mengukir sejarah dalam perjalanan klub Leicester City sebagai pelatih yang berhasil mempersembahkan piala Premier League untuk pertama kalinya.

“Saya rasa adanya faktor keberuntungan juga yang membawa kami menjuarai kompetisi tahun lalu, ketika kami mencoba untuk terus meraih hasil positive disaat yang sama klub-klub papan atas sedang berada dalam kondisi labil dengan hasil tak tentu, semua mata tak memandang ke kami selain klub-klub besar, kami seperti berada dalam dongeng 1001 malam ketika kami berhasil menggondol piala” lanjut Ranieri.

Berada dalam kondisi sulit dimusim ini dimana Si Rubah masih harus berjuang keras melepaskan diri dari jeratan zona degrarasi, pria berusia 65 tahun ini mengakui kalau dirinya tak terpengaruh dengan sukses dimusim lalu, bagi dia itu sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dirinya dan dia akan terus menatap kedepan karena ini adalah bagian dari perjalanan kariernya saat ini.

“Sepakbola memang tidak pernah statis, ini adalah olahraga dinamis dan selalu saja dapat berubah setiap saat, apapun yang saya hadapi itu adalah kenyataan dan tidak perlu terlalu dijadikan beban, walau dalam kondisi pelik kami tidak akan pernah menyerah, masih panjang perjalanan menuju ke garis finish” imbuh pria Italia ini.

21 pekan pertandingan Premiership sudah berlalu The Foxes baru mampu gapi 5 kemenangan dengan 10 kekalahan dan 6 hasil laga sama kuat, berada diposisi ke 15 sekarang Leicester City baru memyimpan nilai 21 point, tertinggal jauh dari Chelsea yang memimpin klasemen sementara dengan raihan nilai 52 point saat ini.

Claudio Ranieri keluhkan semangat juang timnya yang sirna

The Foxes – Sang juara Premier League musim baru lewat Leicester City sedang melalui ujian berat musim ini dimana mereka sedang berhadapan dengan garis degrarasi, baru hampir setengah perjalanan musim kompetisi berlalu The Foxes terjun bebas dari tangga klasemen sementara, berada diurutan ke 16 dengan hanya menyimpan 17 point sang juara harus berjuang keras disisa 20 pertandingan menuju akhir musim 2016-17.

Hal pemicu adalah menurunnya perform para personil yang dimusim lalu bersinar seperti Riyad Mahrez juga Shinji Okazaki dan Jamie Vardy, sang manager Leicester City pun mulai mengeluh dan menyentil meminta para pemainnya untuk lebih berkerja professional, dia memberi contoh para pemain dunia berkelas seperti Lionel Messi juga Cristian Ronaldo yang tak pernah mengenal kata puas dalam perjalanan karier mereka baik di klub ataupun di timnas.

Sebagaimana Messi yang sudah meraih 5 medali Ballon d’Or kemudian Ronaldo dengan 4 kali menyabet piala yang mewakili prestasi mereka sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA, kedua nya tak pernah terlena dan merasa puas dengan apa yang sudah dicapai mereka, mereka tetap bermain dengan perasaan lapar dan haus goal disetiap kesempatan dan musim kompetisi.

“Apa yang diperlihatkan kedua pemain terbaik dunia itu harusnya menjadi ilham bagi para pemain lainnya yang ingin terus maju dalam prestasi karier mereka, mereka tak pernah merasa cukup puas dengan apa yang sudah didapat dan terus mengasah diri untuk senantiasa menjadi yang terbaik disetiap tahunnya, rasa itu yang saya lihat kurang disini” ucap Ranieri.

Jalani masa keemasan dimusim 2015-16 Riyad Mahrez mendapat penghargaan dari asosiasi PFA untuk predikat sebagai The Best Player of the year, lantas dia juga menraih penghargaan sebagai pemain terbaik Afrika pada musim bersamaan, bersama Leicester City winger Algeria ini berhasil mengoleksi 17 goal ketika mengantarkan ‘Si Rubah’ menjuarai kompetisi Premiership musim silam, namun perform individu yang dipertontonkannya memasuki musim anyar jauh menurun dimana baru 3 goal didapat hingga 18 pekan pertandingan berlalu.

“Saya rasa ini bukan berlaku untuk Riyad saja ketika penampilan tim menjadi sorotan, penghargaan jangan membuat perubahan permainan justru sebaliknya, tak ada salahnya jadikan Ballon d’Or sebagai sasaran prestasi selanjutnya bukan berpuas diri dan bangga dengan apa yang sudah diraih, saya belum melihat penampilan terbaik dari tim ini seperti apa yang terlihat dimusim sebelumnya” tambah pelatih berdarah Italia itu.

Ini adalah permainan tim dan Claudio Ranieri mengharapkan semangat kembali dikobarkan dari para pemain yang dimilikinya, Jika semua bisa kembali menyalakan semangat tak susah bagi tim ini untuk kembali merangkak dan memperbaiki posisi mereka ditangga klasemen hingga batas finish nanti, dirinya merindukan semangat tempur dari sosok Riyad Mahrez, James Vardy dan juga Shinji Okazaki sebagaimana yang ada pada timnya musim lalu.

“Saya sangat berharap kontribusi dari semuanya, bukan hanya Riyad sendiri ataupun Vardy atau Okazaki saja tapi semuanya, peran semuanya adalah penting untuk mengembalikan klub dalam persaingan, saya yakin semua akan berubah menjadi fantastis jika semangat kembali berkobar” tutup Ranieri.

 

Ranieri harap The Foxes kembali bangkit di Premier League

The Foxes – Claudio Ranieri mengharapkan kemenangan atas Crystal Palace diakhir pekan silam menjadi menyemangat tim asuhannya, usai menjuarai Premier League musim silam The Foxes hadapi masa sulit dimusim baru sekarang, 9 pekan pertandingan berlalu mereka baru raih 3 kemenangan dengan 4 kekalahan dan 2 hasil pertandingan imbang dan harus berkutit dipapan tengah menempati posisi ke 12 dengan perolehan nilai 11 point.

Focus seakan terpecah ketika mereka harus menjalankan gaya hidup sebagaimana sebuah tim raksasa dalam persaingan papan atas dengan kepadatan jadwal pertandingan, mereka harus bertarung disegala ajang liga domestic ditambah kegiatan Liga Champions, mungkin inilah yang membedakan kinerja tim dari musim sebelumnya dimana mereka bisa lebih fokus ketika hanya menjalankan laga domestic.

Pergantian beberapa sosok penting dalam squad turut diperkirakan menjadi penyebab menurunnya performa tim sepanjang awal musim bergulir, namun ada sisi positive ketika Leicester City yang tampil menghawatirkan di Premiership tampak perkasa di ajang persaingan Liga Champions, hal ini membuat pelatih asal Italia ini masih menilai kalau tim asuhannya tidak bisa dibilang gagal total masuki musim anyar ini.

Berada di kualifikasi group G Liga Champions The Foxes sejauh 3 pertandingan berlalu sudah mengumpulkan nilai penuh 9 point, tampaknya mereka sudah hampir dapat dipastikan akan lolos kebabak selanjutnya, Copenhagen dan Porto masing-masing menyimpan 4 point sama sementara Club Brugge berada diposisi juru kunci diposisi terakhir tanpa nilai dengan 3 hasil kekalahan beruntun.

Dengan perginya N’Golo Kante dari barisan inti Leicester City membuat posisi gelandang sedikit melemah, beruntung James Vardy, Riyad Mahrez, Daniel Drinkwater dan Shinji Okazaki masih tetap bisa dijadikan andalan, jika dimusim silam Ranieri mampu memberi semangat kepada para pemainnya dengan menyediakan Pizza gratis disetiap pertandingan tanpa kebobolan goal tampaknya dimusim ini tidak berlaku lagi.

Namun demikian Ranieri tidak lagi khawatir ketika didalam barisannya dimusim ini dia memiliki satu sosok pembeda yang benar-benar ulet dan energik disetiap pertandingan, dialah Shinji Okazaki striker asal Jepang yang selalu bermain tanpa kehabisan tenaga, dialah yang selalu menjadi ilham pembangkit semangat bagi rekan-rekan satu timnya ketika stamina mereka menurun.

“Dia adalah tipe pemain yang sangat rajin menyambut bola, dimana bola berada dilapangan disitu selalu ada dia, walaupun dia tidak selalu berada disekitar gawang namun disaat posisi bola berada diwilayah kotak penalti Okazaki akan tampak berada disekitar, kehadirannya sangat membantu dan selalu dialah yang menjadi pendongkrak semangat tempur tim ini” ucap Ranieri.

Shinji Okazaki sempat terlupakan dan tak diberi peran oleh Claudio Ranieri ketika dia gagal bermain cantik kala Leicester dikalahkan Liverpool dengan score cukup telak 1-4, menjadi penghias bangku cadangan untuk beberapa  pekan pertandingan dia kembali diberi kesempatan sebagai starter dipertandingan melawan Crystal Palace pekan lalu, tak membuang kesempatan dia kembali perlihatkan kemampuannya dengan menyumbang 1 goal dikemenangan 3-1 dalam laga tersebut.

Akhir pekan mendatang dipekan ke 10 ketajaman dan konsistensi kemenangan The Foxes kembali akan diuji di Stadium White Hart lane markas Tottenham Hotspur, ini adalah pertandingan berat bagi armada Claudio Ranieri ketika The Spurs juga sedang berambisi menggeser posisi, berada diurutan kelima Spurs hanya tertinggal 1 point dari Manchester City yang menduduki puncak klasemen sementara Premier League.

 

 

 

Claudio Ranieri tak cakap muluk awali musim baru 2016-17

Barclay’s – Claudio Ranieri tak mematuk target muluk untuk squadnya dimusim baru 2016-17 kecuali upaya mempertahankan gelar juara, jalankan laga ujicoba pramusim The Foxes tak menunjukkan perform apik sebagaimana dimusim lalu, total 4 laga dilalui dengan 2 kali kemenangan (1 darinya lalui adu penalty) dan 2 kali kekalahan, sementara di Community Shield perlawanan mereka dipatahkan Manchester United.

Sepertinya tak akan terlalu banyak perubahan dalam squad ‘Si Rubah’ yang akan bertarung dimusim baru ini setelah perginya N’Golo Kante, masih mengandalkan Jamie Vardy, Riyad Mahrez kemudian Wes Morgan sebagai pembangun serangan dibarisan terdepan, dengan padatnya jadwal pertandingan dimusim ini adalah wajar kalau pelatih asal Italia ini tak ingin bermimpi terlalu jauh.

Apalagi hingga kini dia masih belum menemukan squad ideal yang akan dijadikan gacokan dalam menjalankan musim baru, dari beberapa laga percobaan belum terlihat The Foxes bermain layaknya sebuah klub besar penyandang gelar rajanya Premier League, mereka juga harus kalah ketika jalankan beberapa pertandingan ‘bayangan’ Liga Champions dimana mereka bertemu klub-klub besar dunia seperti PSG, Barcelona dan Celtic.

Memenangkan gelar Premier League dan mengukir perjalanan sejarah klub dalam kurun waktu satu abad sebagai yang terbaik untuk pertama kalinya Claudio Ranieri tak lantas merasa bangga, justru sebaliknya dia merasakan pekerjaan yang menanti didepan akan semakin berat untuknya, satu yang menjadi beban pikirannya adalah kekuatan armada yang dirasa masih jauh dari standart saat ini dimana dia tak memiliki pemain-pemain inti yang berkualitas lebih sebagai pelapis.

Perginya satu pemain inti sangat terasa baginya saat ini ketika dia hanya memiliki armada pas-pasan, Claudio Ranieri dalam meraih sukses musim lalu terlalu menggantungkan kekuatan tim kepada Riyad Mahrez, Drinkwater dan N’Golo Kante dilapangan tengah selain jamie Vardy sebagai penusuk, untuk mendukung pekerjaan Ranieri dimusim baru ini pihak managemen sudah mendatangkan beberapa nama baru.

Enam nama baru penghuni King Power Stadium adalah Ron-Robert Zieler, Ahmed Musa, Bartosz Kaputska, Luis Hernandez, Raul Uche dan Nampalys Mendy masih belum teruji kemampuan dan adaptasi mereka dalam squad Ranieri, dibanding dengan pendatang baru yang hadir perkuat Liverpool, Chelsea ataupun duo Manchester jelas nama-nama armada baru The Foxes ini tak sebanding.

Tapi sekali lagi bukan harga pemain yang akan menjadi patokan kemampuan kontribusi akan tetapi seberapa mampu pemain tersebut larut dalam permainan tim solid yang akan menjadi penentu, dalam laga ujicoba winger asal Nigeria Ahmed Musa (23 tahun) tampil cukup menjanjikan dan sepertinya layak untuk mengganti posisi N’Golo Kante ketika dia memperlihatkan permainan indah kala mencetak 2 goal kegawang Barcelona walau pada akhirnya Leicester City harus kalah dengan score 4-2.

Selain Ahmed Musa yang didatangkan dari CSKA Moskow pemain baru lainnya yang tak kalah bagus adalah Nampalys Mendy, sebagai pemain berposisi gelandang bertahan Ranieri sudah pernah akrab dengannya ketika dirinya melati As Monaco dahulu, Mendy juga disebut-sebut sebagai bakal calon pengganti posisi N’Golo Kante, didatangkan dari Nice gelandang asal Francis berusia 24 tahun ini diperkirakan tidak serta merta dapat merebut posisi Kante dan masih perlu waktu pembuktian.

Bagaimanapun latar belakang para pemain baru dan seberapa bagus prediksi untuk mereka semuanya masih mentah dan belum melalui ujicoba pertandingan sesungguhnya, seiring berjalannya waktu dan musim kompetisi squad idola baru kembali akan terbentuk dan itu semua memerlukan jam terbang pertandingan yang cukup.

Memang Ranieri dalam menjalankan misinya terlihat tidak terlalu akrab dengan gonta ganti squad sebagaimana diperlihatkannya dimusim baru lewat, dari laga kompetitif pertama di Community Shield ketika pasukannya dikalahkan oleh armada Jose Mourinho, penampilan Leicester City tidak terlalu buruk ketika mereka mampu mengejar ketertinggalan namun mereka terpaksa harus mengakui keunggulan lawan kala Ibra memastikan kemenangan jelang menit akhir pertandingan.

Untuk mengulang kesuksesan memang butuh tenaga lebih apalagi dimusim ini jadwal padatnya kesibukan pertandingan pastinya akan menimbulkan kendala tersendiri, mampu kah Leicester City terus bersaing dipapan atas dan melangkah jauh dalam kompetisi Liga Champions? rasanya Claudio Ranieri sudah bertindak bijaksana dan berbicara apa adanya tanpa janji muluk awali musim kompetisi.

“Ini adalah musim terberat yang akan dilalui sepanjang perjalanan klub dimana kami harus membagi waktu untuk persiapkan diri dikompetisi Liga Champions, terlalu naif dan muluk jika saya janjikan untuk mempertahankan gelar dan membawa pulang Piala Champions, saya tidak berkomentar jauh hanya berjanji untuk memberikan yang terbaik yang mampu kami berikan untuk klub sepanjang musim ini” tutup Ranieri.

‘The Foxes’ tak berdaya ketika hadapi Barcelona dan PSG

Pramusim – Sebagai jawara Premier Leagur Leicester City tentunya akan menjalankan kesibukan luar biasa dengan padatnya pertandingan yang akan dilakoni, baru pertama kali menjadi juara tentu saja The Foxes termasuk ‘hijau’ dalam hal menghadapi tim-tim besar dibenua Eropa yang akan menjadi agenda mereka musim mendatang di ajang Liga Champions.

Leicester City menyedot perhatian dunia ketika secara mengejutkan mereka berhasil sukses mengalahkan tim-tim raksasa pelanggan papan atas Premier League, kebetulankah? Memang sejak mereka masuk dalam persaingan 5 besar mendekati penghujung musim kompetisi banyak pihak meragukan, tapi ketika mereka berhasil menggondol tropy semua keraguanpun lenyap.

Kini menyambut musim baru tak berbeda dengan yang lain Claudio Ranieri juga membuat persiapan untuk armadanya, datang dan pergi nya pemain adalah sesuatu rutinitas dan aktifitas tahunan yang sudah menjadi tradisi, mengisi pertandingan ujicoba pramusim menjadi ajang persiapan bagi para pelatih untuk mempersiapkan squad barunya.

Sebelum berangkat touring ke Amerika Serikat jalankan ajang pramusim International Champions Cup 2016 dua laga ujicoba dilalui pasukan Claudio Ranieri dengan kemenangan, 3 laga dipentas ICC 2016 dilalui dengan 2 kekalahan dan 1 pertandingan imbang, berimbang dengan Celtic 1-1 kemudian kalah 4-0 dari PSG dan 4-2 dari Barcelona  menjadi pedoman bagi Ranieri untuk berbenah diri.

Dua kekalahan dari dua klub pelanggan Liga Champions mengisyaratkan kalau Leicester City harus mempersiapkan diri lebih matang lagi untuk menyambut musim baru kompetisi terutama dipentas Liga Champions yang akan mereka lakoni nanti, sisa waktu sudah mepet setidaknya Ranieri memiliki gambaran peta kekuatan squad olahannya ketika dia berkesempatan untuk menjajal kekuatan dua klub raksasa dari Eropa itu.

“Ini yang saya inginkan, selama ini klub belum memiliki pengalaman melawan klub lain dibilangan Eropa, sebuah kesempatan pembelajaran yang sempurna untuk kami ketika berhadapan dengan klub seperti Barcelona dan PSG, banyak hikmah didapat dari pertandingan ini banyak hal didapat dan kami harus memperbaiki banyak kekurangan di squad ini untuk mendapatkan hasil positive” ungkap Ranieri.

Ini baru pertandingan bayangan tapi sangat penting dan berarti bagi seorang pelatih untuk menyusun kekuatan seiring komposisi squad yang sudah pasti berubah dari musim lalu, kondisi squad yang masih jauh dari kata sempurna ketika masih ada pemain inti yang berhalangan turut menjalankan laga percobaan pramusim ini.

Akhir pekan esok 7 agustus 2018 pertandingan kompetitif pertama akan dijalankan Leicester City dalam ajang perebutan trophy Community Shield, bertemu Manchester United pertandingan akan berlangsung di Kingston Communication Stadium, bersiaplah akhir pekan depan 13 agustus 2016 Premier League sudah kembali datang menghibur semua penikmat sepakbola dunia.

Claudio Ranieri puas dan siap jalankan laga pramusim

Premier League – Klub-klub dihampir keseluruhan liga sudah bersiap diri untuk menghadapi musim baru kompetisi, Pelatih pun mulai melakukan kegiatan sessi latihan untuk menghadapi jadwal pertandingan masa pramusim, bagi pelatih baru ini adalah saat pengenalan dan saat menyampaikan visi dan misi serta saatnya memahami karakter armada yang dimilikinya untuk dibentuk sebuah squad ideal.

Jose Mourinho, Antonio Conte, Pep Guardiola sudah mulai terlihat sibuk lebih awal guna mengenal lebih jauh ‘kapal’ serta ‘anak buah kapal’ yang akan mereka kapteni untuk berlayar dilautan persaingan Premier League, pertandingan ujicobapun sudah dilakukan dengan hasil yang masih belum memiliki standart dikarenakan masa perkenalan ini.

Begitu juga Claudio Ranieri pelatih yang membuat sensasi dengan membawa Leicester City menangkan kejuaraan Premiership musim lalu, memimpin pertandingan ujicoba pertama hadapi Oxford United yang berkompetisi di league one Barclay’s dini hari tadi 20 juli 2016, The Foxes hanya mampu raih kemenangan tipis 2-1 dengan bersusah payah bahkan harus tertinggal terlebih dahulu.

Christopher Maguire terlebih dahulu membuka kemenangan untuk Oxford United dimenit ke 13, baru 15 menit kemudian Demarai Gray mampu membalas dan menutup  pertandingan dibabak pertama dengan score imbang 1-1, goal kemenangan baru kemudian mucul dimenit ke 69 melalui kreasi dari Jeffrey Schlupp.

Dalam laga persahabatan ini Ranieri menjajal semua armadanya, 22 pemain dilibatkan dalam pertandingan ini dimana semua lini mulai dari kiper hingga kebarisan depan dilakukan pergantian, tiga pemain inti yang tidak ikut bermain adalah Jamie Vardy, Marc Albrighton dan Christian Fuchs, kemudian dalam laga ini Ranieri menguji armada rekrutan baru antara lain, Luis Hernandez, Ahmed Musa dan Ron-Robert Zieler.

Usai laga ujicoba ini The Foxes pun sudah harus bersiap-siap untuk menjalankan jadwal pertandingan diturnamen persahabatan International Champions Cup melawan Celtic di Celtic Park Glasgow 23 juli mendatang, selanjutnya klub yang akan mereka hadapi adalah Paris St-Germain bertempat di StubHub Center, Carson, California, dan terakhir Barcelona bertempat di Friends Arena Stockholm.

Dapatkan hasil pertandingan dengan kemenangan tipis pelatih Italia berusia 64 tahun ini tak merasa terbebani, dia melihat dari sisi lain dan bukan kemenangan tipis yang menjadi sorotannya ketika dia menyukuri kalau para pemain dalam keadaan fit seutuhnya dan siap jelang musim kompetisi anyar tak terbebani cedera.

“Laga ujicoba adalah penting ketika sebagian dari para pemain berhenti aktifitas cukup lama, pemanasan diperlukan untuk mengembalikan stamina dan kesiapan para pemain sekembali dari masa liburan, saya mengatur pemanasan untuk hampir semua pemain dengan rotasi dimana ada yang bermain 60, 30, 45 menit” ujar Ranieri.

Melihat anak-anak didiknya dalam keadaan prima Claudio Ranieri merasa sudah siap untuk membawa armadanya menjalankan laga selanjutnya, dalam perjalanan touring pramusim nanti The Foxes akan merasakan pengalaman baru yang belum pernah dirasakan yaitu melawan klub-klub raksasa yang selama ini hanya ada dalam impian ketika mereka belum menyandang predikat jawara Premier League.

 

 

Ucapan selamat berdatangan untuk Leicester City dan Ranieri

EPL – Selesai sudah tugas Claudio Ranieri mengantar Leicester City menjadi kampiun di kasta tertinggi Liga Inggris musim ini, ‘From Zero To Hero’ mereka yang tak diperhitungkan mereka yang diprediksi akan menjadi tim terdegrarasi musim ini mampu merubah visi dan membalikkan keadaan menjadi tim yang paling disegani di EPL kalahkan pamor duo Manchester, Arsenal, Liverpool, Chelsea sijuara musim silam yang hanya akan finish di urutan papan tengah dimusim ini.

Pertama kalinya dalam sejarah perjalanan klub berjulukan The Foxes ini raih prestasi emas dengan menjuarai Premier League, Claudio Ranieri pelatih Italia ini pun menjadi pahlawan dan namanya akan tercatat abadi dalam tonggak sejarah sepakbola kota Leicester, dengan demikian dalam sejarah perjalanan Premier League nama Claudio Ranieri tercatat sebagai pelatih berpasport Italia ketiga yang berhasil bawa sukses tim asuhannya menjadi juara.

Dua pelatih asal Italia terdahulu yang juga berhasil raih sukses diajang Premier League adalah Carlo Ancelotti yang berhasil kawal Chelsea untuk mengangkat trophy EPL dimusim kompetisi 2009-10, lantas pelatih lainnya adalah Roberto Mancini pelatih Inter Milan saat ini yang antarkan Manchester City menjadi jawara Barclay’s saat dimusim kompetisi 2011-12.

Sepanjang sejarah perjalanan karier Claudio Ranieri sebagai pelatih ini adalah pencapaian tertinggi yang berhasil diraihnya, sukses diusia 64 tahun saat ini Ranieri pertontonkan kalau umur memang bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih keberhasilan, usai pertandingan Chelsea versus The Spurs yang berkesudahan dengan score imbang 2-2 klub Leicester City special sang pelatih Ranieri kebanjiran ucapan selamat.

Menyimpan total 77 point dan berselisih 7 point dengan Spurs diposisi runner-up dimana hanya 2 laga pertandingan tersisa Si Serigala tak lagi dapat dikejar dan mereka sudah mengunci titel juara musim ini.

Ucapan yang datang dari klub-klub mantannya Claudio Ranieri hingga perdana Menteri Britannia raya David Cameron yang memberikan apresiasi special untuk Ranieri, ada yang melalui jaringan telepon pribadi dan ada juga yang berkicau melalui tweeter walau ceremony penyerahan trophy Premier League itu sendiri masih belum diresmikan.

Juventus, Valencia bahkan Carlo Ancelotti mantan pelatih sukses Real Madrid yang segera akan memimpin Bayern Munchen musim mendatang turut memberikan kata-kata indah untuk Ranieri,”Selamat saya ucapkan untuk Leicester City dan juga sobat karibku Claudio Ranieri, kemenangan yang sekaligus mencatat sejarah baru dalam persaingan di Liga Utama Inggris” kicau akun pribadi Ancelotti.

Perdana Menteri Inggris sendiri yakni David Cameron juga memberikan kicauan merdu untuk keberhasilan Ranieri,”Pencapaian bersejarah Leicester City dimusim ini sangat luarbiasa, selamat untuk Leicester City atas gelar pertama di Premier League dan juga Ranieri atas prestasi yang ditorehkannya, perjuangan yang sangat pantas mendapatkan penghargaan tertinggi”.

Jamie Vardy terancam larangan 2 kali tampil

EPL – Pertandingan antara Leicester City dengan West Ham United akhir pekan lewat sudah selesai dengan hasil imbang 2-2, namun insiden yang terjadi dimenit ke 58 dimana simesin goal Jamie Vardy mendapatkan kartu kuning kedua dan harus keluar dari lapangan permainan masih menyimpan polemik, sebagaimana yang terjadi dilapangan saat itu Jamie Vardy tak menerima ketika dia dijatuhkan Angelo Ogbonna didalam wilayah berbahaya lawan bukannya tendangan penalty didapat tapi dia malah diusir dari permainan.

Wasit pemimpin pertandingan Jon Moss yang menilai kalau Vardy lakukan diving tak mengindahkan protes yang dilakukan striker berusia 29 tahun ini dan tetap dengan keputusannya mengusir bintang lapangan The Foxes ini, tak mampu tahan emosi Vardy yang tak senang sebelum meninggalkan lapangan pertandingan sempat menunjuk kewajah Jon Moss dan itu menjadi permasalahan ditubuh kedisiplinan FA.

Scorsing yang seharusnya berlaku untuk larangan satu kali tampil kini terancam menjadi dua kali karena kehilangan kontrol sesaat darinya, federasi FA usai pertandingan adakan penilaian ulang atas tindakan ketidak patuhan Vardy terhadap Jon Moss, bukan saja Vardy satu-satunya sosok yang mendapatkan hukuman atas kejadian tersebut tapi The Foxes juga akan mendapatkan sanksi administrasi atas kejadian tersebut ketika mereka dinilai tak mampu ‘menjinakkan’ pemain mereka.

Hasil investigasipun sudah membuahkan keputusan yang diumumkan keesokan hari usai pertandingan 18 april 2016 tadi malam, pencetak 22 goal The Foxes ini divonis dengan tambahan 1 kali larangan tampil perkuat timnya, baik Vardy juga The Foxes diberi waktu untuk membela diri hingga 21 april 2016 jika ingin lakukan banding.

Kerikil tajam dalam perjalanan The Foxes menuju kepodium juara mulai terlihat dari insiden ini, jika pada akhirnya Vardy ditetapkan untuk absen dalam dua laga maka dia tidak akan tampil kala timnya melawan Swansea City dan Manchester United, tentu saja hal ini akan membawa dampak negative psikologis bagi squad Claudio Ranieri yang sedang diburu Tottenham Hotspur dalam perjalanan diakhir musim kompetisi.

Dikandang Stoke City di Britannia Stadium dini hari tadi 19 april 2016 pasukan The Lillywhites baru sukses mencuri angka 3 point dengan kemenangan 4 goal tanpa balas, dua goal masing-masing disarangkan oleh Harry Kane (9’,71’) dan Dele Alli (67’,82’), kemenangan ini membuat persaingan di kompetisi Liga Utama Inggris semakin seru untuk ditonton hingga keakhir musim kompetisi.

Sama-sama menyisakan 4 pertandingan kini Leicester City memiliki jarak 5 point dengan The Spurs yang menempel ketat diposisi runner-up, sedangkan Manchester City yang masih menyisakan 5 pertandingan juga tak ingin ketinggalan dan terus mengintip diposisi ketiga dengan menyimpan 60 point tertinggal 13 point dari Leicester City.

 

 

 

 

 

Leicester City abadikan nama pemainnya jika juara nanti

The Foxes – Bukti kalau sepakbola adalah olahraga universal terlihat ketika Leicester City berencana memberikan penghargaan kepada pahlawan yang mengharumkan kota mereka, mengabadikan nama-nama para pemain dan pelatih berjasa untuk diabadikan menjadi nama jalan adalah penghargaan tertinggi, tak heran karena inilah kali pertama klub kebanggaan kota Leicester ini berhasil menembus papan atas dan bahkan sudah dekat dengan gelar juara Premier League.

Awalnya para pendukung setia The Foxes memprakarsa dengan usulan mengabadikan nama Jamie Vardy top scorer sementara Premiership musim ini dengan 19 goalnya, para fanatisanpun mengusulkan melalui surat tertulis kepada walikota untuk memberikan penghargaan sekaligus mengingat nama Jamie Vardy yang memberi sumbangan paling besar atas hasil yang diraih klub musim ini.

Hal serupa sudah pernah diberikan kepada Gary Lineker yang pernah mengharumkan Leicester City diera 1978-85 silam, Lineker Road adalah nama salah satu jalan dikota Leicester yang melekat hingga kini, Peter Soulsby selaku walikota yang kini bertugas juga menjelaskan kalau mereka sudah mengabadikan banyak nama-nama untuk sebuah jalan tak hanya atlit bahkan sastrawan juga seperti Lord Alfred, John Dryden,Lee Trevino, Tony Jacklin jadi itu adalah wajar.

“Bukan saja sekarang bahkan kami sudah lakukan sejak dahulu untuk mengabadikan nama sosok-sosok yang pernah mengharumkan kota ini menjadi nama sebuah jalan, bukan hanya Vardy Vale kami malahan sudah menyiapkan nama Schmeichel Street kemudian Ranieri Road juga Drinkwater Drive dan Mahrez street untuk menghargai perjuangan mereka” tutur  Peter Soulsby.

Walaupun masih ada 6 pertandingan lagi untuk memastikan kalau Leicester City akan menjuarai Premier League untuk pertama kalinya dalam perjalanan sejarah klub dan juga kota Leicester sendiri, namun persiapan untuk merayakan kemenangan jika saat tiba nanti sudah mulai dibicarakan, balaikota yang pernah dipakai untuk hajatan ketika The Foxes sukses naik kasta dari liga Championship ke Premier League ditahun 2014 lalu diperkirakan tidak akan cukup menampung luapan lautan manusia para pendukung setia The Foxes jika tiba waktunya nanti.

Akhir pekan mendatang 10 april 2016 Claudio Ranieri akan membawa para laskar The Foxes untuk bertandang kemarkas Sunderland yang saat ini mendekam diposisi 18 dengan 27 point, sekilas terlihat pertandingan ini akan jadi mudah namun Ranieri tidak sependapat, justru dia berpesan kepada seluruh armadanya untuk tidak main-main ketika berhadapan dengan sebuat tim yang terdesak dan mencoba untuk bebas dari posisi Degrarasi.

“Ada nuansa tak terduga dan sulit untuk diprediksi kala menghadapi tim yang sedang terujung dan berusaha untuk bertahan diliga utama musim mendatang, kami harus menaruh semua lawan diposisi yang sama level ketika kami sudah dekat dengan penghujung kompetisi untuk memastikan trophy kemenangan ditangan kami” tutur Ranieri.

Dari 10 laga pertandingan yang pernah dilakoni kedua tim ini tercatat kalau Leicester City belum pernah raih kemenangan kala bertandang kemarkas Sunderland, 4 kali laga tandang diakhiri dengan 2 kekalahan dan 2 hasil pertandingan imbang, ini yang membuat Ranieri sedikit berhati-hati walau dilaga pertama musim ini The Foxes berhasil tundukkan Sunderland di King Power Stadium dengan score telak 4-2.