Liverpool tim termuda kedua setelah Tottenham Hotspur

The Reds – Mantan pelatih Borussia Dortmund yang kini menangani Liverpool yakni Jurgen Klopp mengaku kalau tim asuhannya masih belum berkerja maksimal, 7 pekan sudah berlalu dikompetisi musim anyar 2016-17 dalam kurun tersebut klub asal Merseyside ini sudah mengantongi 5 kemenangan dengan 1 kekalahan dan 1 laga berakhir imbang.

Dengan raihan 16 point yang sama dengan Arsenal kini klub bermotto You’ll Never Walk Alone ini berada diposisi keempat satu level dibawah The Gunners, dalam 5 kemenangan yang diraih diantaranya pasukan pimpinan Kloop tercatat menaklukkan Arsenal, Chelsea dan sang juara bertahan Leicester City kemudian mereka juga berhasil menahan imbang Tottenham Hotspur.

Dari hasil tersebut dapat digambarkan kalau Liverpool yang diisi rata-rata pemain muda sudah menampakkan perkembangan signifikan dibanding musim-musim sebelumnya, dalam urusan pemain muda Tottenham Hotspur memimpin dengan usia rata 25,1 sedang Liverpool berada diurutan kedua diusia 25,5 tahun.

Kesabaran masih menjadi kunci utama yang akan membawa sukses The Reds menurut pelatih asal Jerman tersebut, membuka musim kompetisi baru Klopp merasa cukup puas saat ini walaupun dia akui kinerja tim asuhannya masih jauh dari pengharapan ataupun target yang dia inginkan, dengan pasukan muda yang dipimpinnya level yang dikejar masih sangat jauh.

“Saya harus terus optimis kalau perform tim akan terus membaik seiring perjalanan waktu, saya tidak akan kehabisan kesabaran dan terus berpikiran positive, tim ini terus melaju dan berada ditrack dimana mereka terus memacu kinerja sebagaimana yang saya arahkan, mereka masih sangat muda dan mereka dalam masa penyerapan yang baik” ujar Klopp.

Pelatih asal Jerman ini tak ragu kalau anak-anak asuhnya akan mencapai level teratas seiring perjalanan waktu dan pengalaman bertanding, mereka akan menjadi pemain matang suatu saat nanti dan mereka akan mencapai puncak karier semuanya hanya waktu lah yang akan membuktikannya.

“Kesempatan bermain akan membuat mereka berkembang, kami sudah melalui beberapa pertandingan sulit seperti ketika mengalahkan Arsenal, Chelsea dan Leicester City, ini baru awal perjalanan dan kami sudah membuat banyak goal walaupun kami juga banyak kebobolan, saya masih mengharapkan tim ini lebih produktif lagi dan disaat bersamaan saya juga inginkan barisan belakang yang lebih kokoh” tutur mantan pelatih Dortmund ini.

Akhir pekan mendatang 18 oktober 2016 Liverpool kembali akan menguji diri ketika mereka akan berhadapan dengan Manchester United di Anfield Stadium, tentunya tantangan menggoda dari pasukan Setan Merah yang saat ini berada diposisi keenam dalam tangga klasemen sementara dengan total 13 point akan membangkitkan semangat juang para anggota The Anfield Genk.

 

 

Claudio Ranieri puas dan siap jalankan laga pramusim

Premier League – Klub-klub dihampir keseluruhan liga sudah bersiap diri untuk menghadapi musim baru kompetisi, Pelatih pun mulai melakukan kegiatan sessi latihan untuk menghadapi jadwal pertandingan masa pramusim, bagi pelatih baru ini adalah saat pengenalan dan saat menyampaikan visi dan misi serta saatnya memahami karakter armada yang dimilikinya untuk dibentuk sebuah squad ideal.

Jose Mourinho, Antonio Conte, Pep Guardiola sudah mulai terlihat sibuk lebih awal guna mengenal lebih jauh ‘kapal’ serta ‘anak buah kapal’ yang akan mereka kapteni untuk berlayar dilautan persaingan Premier League, pertandingan ujicobapun sudah dilakukan dengan hasil yang masih belum memiliki standart dikarenakan masa perkenalan ini.

Begitu juga Claudio Ranieri pelatih yang membuat sensasi dengan membawa Leicester City menangkan kejuaraan Premiership musim lalu, memimpin pertandingan ujicoba pertama hadapi Oxford United yang berkompetisi di league one Barclay’s dini hari tadi 20 juli 2016, The Foxes hanya mampu raih kemenangan tipis 2-1 dengan bersusah payah bahkan harus tertinggal terlebih dahulu.

Christopher Maguire terlebih dahulu membuka kemenangan untuk Oxford United dimenit ke 13, baru 15 menit kemudian Demarai Gray mampu membalas dan menutup  pertandingan dibabak pertama dengan score imbang 1-1, goal kemenangan baru kemudian mucul dimenit ke 69 melalui kreasi dari Jeffrey Schlupp.

Dalam laga persahabatan ini Ranieri menjajal semua armadanya, 22 pemain dilibatkan dalam pertandingan ini dimana semua lini mulai dari kiper hingga kebarisan depan dilakukan pergantian, tiga pemain inti yang tidak ikut bermain adalah Jamie Vardy, Marc Albrighton dan Christian Fuchs, kemudian dalam laga ini Ranieri menguji armada rekrutan baru antara lain, Luis Hernandez, Ahmed Musa dan Ron-Robert Zieler.

Usai laga ujicoba ini The Foxes pun sudah harus bersiap-siap untuk menjalankan jadwal pertandingan diturnamen persahabatan International Champions Cup melawan Celtic di Celtic Park Glasgow 23 juli mendatang, selanjutnya klub yang akan mereka hadapi adalah Paris St-Germain bertempat di StubHub Center, Carson, California, dan terakhir Barcelona bertempat di Friends Arena Stockholm.

Dapatkan hasil pertandingan dengan kemenangan tipis pelatih Italia berusia 64 tahun ini tak merasa terbebani, dia melihat dari sisi lain dan bukan kemenangan tipis yang menjadi sorotannya ketika dia menyukuri kalau para pemain dalam keadaan fit seutuhnya dan siap jelang musim kompetisi anyar tak terbebani cedera.

“Laga ujicoba adalah penting ketika sebagian dari para pemain berhenti aktifitas cukup lama, pemanasan diperlukan untuk mengembalikan stamina dan kesiapan para pemain sekembali dari masa liburan, saya mengatur pemanasan untuk hampir semua pemain dengan rotasi dimana ada yang bermain 60, 30, 45 menit” ujar Ranieri.

Melihat anak-anak didiknya dalam keadaan prima Claudio Ranieri merasa sudah siap untuk membawa armadanya menjalankan laga selanjutnya, dalam perjalanan touring pramusim nanti The Foxes akan merasakan pengalaman baru yang belum pernah dirasakan yaitu melawan klub-klub raksasa yang selama ini hanya ada dalam impian ketika mereka belum menyandang predikat jawara Premier League.

 

 

Persaingan Pep Guardiola dan Jose Mourinho berlanjut

Barclay’s – Persaingan klub-klub di Premier League musim mendatang akan semakin seru ketika beberapa pelatih kondang turut meramaikan kompetisi, Jose Mourinho akan jalan petualangan barunya membawahi gerombolan Setan Merah Pep Guardiola akan memimpin pasukan The Citizen dan Antonio Conte akan memimpin pasukan The Blues.

Pelatih yang paling kontroversial dan seakan menjadi rival abadi adalah Jose Mourinho dan Pep Guardiola, keduanya secara kebetulan kini memimpin klub tetanggaan kota Manchester dan akan bersaing untuk mewujudkan diri menjadi klub yang terbaik, sebelumnya keduanya pernah terlibat dalam persaingan hebat di La Liga saat Mourinho memimpin Real Madrid dan Pep Guardiola memimpin Barcelona.

Sepanjang persaingan keduanya di La Liga ketika itu Pep Guardiola masih memiliki catatan bagus diatas Jose Mourinho, dari 9 laga pertemuan sepanjang keduanya bersaing di liga topnya Spanyol kala itu Pep Guardiola mendominasi dengan 3 kali menangkan pertandingan  dan kalah untuk 2 kali sedangkan 4 pertandingan sisa lain berakhir imbang.

Selain itu sebagian nama pelatih top masih akan tetap menghangatkan persaingan Barclay’s Premier League musim mendatang, diantaranya Claudio Ranieri pelatih berdarah Italia yang membuat kejutan dimusim lewat masih akan meneruskan pekerjaannya bersama Leicester City, Jurgen Klopp dengan Liverpool, Pochettino dengan The Spurs.

Sementara Ronald Koeman setelah 2 musim kompetisi mengawal Southampton *2014-16 musim mendatang akan siap membesut Everton mengganti David Unsworth yang baru mengganti Roberto Martinez usai didepak 12 mei 2016, mengganti posisi yang ditinggal Ronald Koeman Southampton mendatangkan Claude Puel pelatih sukses Nice.

Namun menurut Pep Guardiola persaingan di liga utama Inggris menjadi menarik bukan karena pelatih semata, dikatakan kalau aspek pelatih memang akan turut mempengaruhi namun pada intinya yang lebih berperan dan membuat serunya pertandingan untuk ditonton adalah para pemain yang langsung bersentuhan dilapangan pertandingan.

“Inilah yang membedakan liga primer Inggris menurut pandangan saya, publik memang akan melihat Pelatih tapi yang menjadi urutan pertama dalam pandangan mereka adalah tertuju kepada siapakah pemain yang meramaikan tim yang mereka bela, saya rasa bukan hanya dimusim ini tapi ini adalah tradisi yang sudah mengakar semenjak kompetisi Premier League bergulir” tukas mantan pelatih Munchen itu.

“Satu hal yang membuat saya memilih untuk menjajal rumput Inggris adalah tantangan untuk mencoba ketatnya persaingan disini, bagaimana kehidupan di Britania Raya, komunitas disini, saya ingin belajar banyak untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan dan budaya dinegara-negara Eropa pada umumnya” tambah Pep Guardiola.

Wenger senang finish runner-up dan harapan musim depan

The Gunners – Arsenal menutup musim kompetisi dengan hasil pertandingan apik di Emirates Stadium ketika mereka berhasil kalahkan Aston Villa dengan 4 goal, Olivier Giroud dalam laga ini menyumbangkan tiga goal masing-masing dimenit ke 5 kemudian 79 dan 80 sebelum kemudian satu goal hasil bunuh diri dari kiper The Villa Mark Bunn dimenit ke 90 menutup pertandingan.

Walau kembali menutup musim kompetisi ini tanpa gelar diraih Arsene Wenger merasa puas dengan hasil yang dicapai tim besutannya, sudah lama Arsenal tak lagi akhiri musim kompetisi diposisi runner-up semenjak tahun 2005, persaingan dengan The Spurs pun berakhir sudah ketika keduanya berebut untuk akhiri musim sebagai penghuni runner-up diklasemen EPL 2015-16, disaat bersamaan Tottenham Hotspur dapatkan hasil buruk dikandang Newcastle United dengan kekalahan 5-1.

The Professor menyambut hasil akhir kompetisi dengan suka cita ketika tim asuhannya berhasil pertahankan reputasi finish musim diatas posisi Tottenham Hotspur yang sudah berlangsung semenjak musim 1995, namun Wenger tak menyembunyikan rasa kecewanya kala tim asuhannya gagal raih prestasi juarai Premier League dimoment yang seharusnya menjadi milik mereka.

Disaat melemahnya para rival abadi perseteruan mereka seperti Chelsea, Manchester United kemudian Liverpool seharusnya merekalah yang berpeluang untuk tampil dan menduduki puncak klasemen diakhir musim, tapi dia dan pasukannya gagal dikarenakan banyaknya hambatan antara lain cedera dan permasalahan teknis lainnya yang akhirnya banyak membuang peluang dan point.

Memang dia menyadari kalau banyak yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kinerja kerja timnya dimusim mendatang, namun Wenger tak setuju jika dikatakan kalau timnya jalankan musim buruk ketika mereka berhasil capai posisi ideal diakhir musim ini, dapat eksis di turnamen Liga Champions adalah sebuah pencapaian walau mereka belum mampu berbicara banyak di ajang tersebut.

“Kami menjalankan musim yang fantastis, hasil yang lebih baik dari perolehan dimusim lalu walau harapan kami adalah menjuarai bukan runner-up saja, saya harap musim depan sudah saatnya kami meraih gelar Premier League, tim ini berkerja dengan sangat baik dan saya harus memberi apresiasi kepada mereka yang berjuang hingga kepertandingan terakhir” tutur pria berdarah Francis itu.

Dua pemain senior yakni sang kapten Mikel Arteta (34 thn) dan Tomas Rosicky (35 thn) dipastikan tidak lagi akan bermain untuk Arsenal dimusim depan, Arteta dimusim ini hanya terlibat dalam 9 laga bersama rekan-rekan akibat seringnya cedera yang menghampiri, usai laga dengan The Villa sang kapten yang turut bermain dan Rosicky yang tidak tampil mendapat standing applause dari para pendukung sebagai salam perpisahan.

 

Chelsea vs Leicester City pertandingan gengsi

EPL – Hiburan diakhir musim kompetisi di Premier League cukup bermutu dimana akan bertemu dua jawara dua musim periode untuk beradu, Chelsea dipemegang piala dimusim 2014-15 akan bertemu dengan kampiun musim ini Leicester City, sebuah suguhan menarik akan dipertontonkan di Stamford Bridge walaupun sudah tidak ada lagi nilai perjuangan terdapat didalamnya kecuali gengsi.

Sebagai juara bertahan nasib The Blues dimusim ini cukup menggenaskan, dimana mereka bahkan hampir terperosok kejurang degrarasi usai penampilan buruk yang dipertontonkan The Special One dan armadanya semenjak awal musim kompetisi bergulir, sangarnya The Blues dimusim lalu hilang tak berbekas dimusim ini Mourinho pun terpaksa pensiun lebih awal ditengah kompetisi berlangsung.

Guus Hiddink pun kemudian didatangkan untuk membenahi management The Blues yang porak poranda ditangan Jose Mourinho dimusim ini, sempat terbaring diposisi terburuk diurutan ke 16 dalam klasemen Guus Hiddink berhasil kembalikan muka Si Biru yang tercoreng dimusim ini dengan habiskan musim kompetisi menduduki posisi ke 9 mengoleksi 49 point.

Dilaga pertemuan pertama ketika pertandingan berlangsung di King Power Stadium Chelsea harus mengakui kekuatan sipendatang baru papan atas ini dengan kekalahan 2-1, dipertandingan besok Guus Hiddink berkesempatan mengoreksi kesalahan dipertandingan pertama dan coba meraih kemenangan dikandang sendiri sebagai taruhan gengsi sebuah tim mantan juara Premier League.

Sebelum pertandingan dimulai acara simbolis penyerahan trophy bergilir Premier League akan mengawali pertemuan kedua tim, sebagai juara bertahan musim lalu Chelsea akan menyerahkan secara simbolis trophy juara kepada Leicester City, sebagai juara dimusim ini tentunya The Foxes tak ingin kekalahan dilaga ini menjadi nila dan cacat dihari penyerahan trophy kejuaraan sesungguhnya esok malam usai pertandingan digelar.

Pertandingan di Stamford Bridge esok malam merupakan pertandingan terakhir bagi Guus Hiddink bersama The Blues, walau sedikit terlambat datang mengganti Jose Mourinho namun mantan pelatih timnas Belanda ini dinilai berhasil dalam menjalankan tugasnya, sebanyak 26 laga dilakoni disegala ajang Hiddink memiliki catatan tak buruk dengan 10 kemenangan 10 hasil pertandingan imbang dan 6 hasil pertandingan kekalahan.

Untuk memimpin Si Biru dimusim mendatang sipemilik klub Roman Abramovich sudah memastikan kedatangan pelatih timnas Italia yang juga adalah mantan pelatih Juventus Antonio Conte, The Blues akan jalankan babak baru perjuangan bersama pelatih asal Italia dan mampukah Antonio Conte menjadi pelatih keempat Italia yang tercatat meraih sukses setelah Roberto Mancini, Carlo Ancelotti, Claudio Ranieri dengan persembahan gelar juara Premier League.

 

 

 

 

 

 

 

Kelechi Iheanacho atau Markus Rashford lebih baik?

Manchester – Keduanya masih muda dan keduanya menjadi striker harapan milik tim masing-masing kota Manchester itu lah kesamaan kedua pemuda ini, adalah Kelechi Iheanacho asal Nigeria yang masih berusia 19 tahun pemain depan Manchester City dan Marcus Rashford pria kelahiran kota Manchester 18 tahun silam yang diyakinin akan menjadi ujung tombak harapan pasukan Setan Merah nantinya.

Mengisi musim ini Kelechi Iheanacho mendapat kesempatan bermain lebih banyak ketimbang Rashford, jika Marcus Rashford bermain hanya untuk 13 kali penampilan dengan menghasilkan 7 goal berikut 2 assist maka Iheanacho tercatat total tampil sebanyak 34 kali perkuat Manchester City dengan memetik 13 goal dengan 5 assist darinya.

Ketajaman keduanya bersama tim yang mereka bela terlihat sangat menjanjikan, mereka masih muda belia dan memiliki harapan besar untuk sukses, keduanya menjadi topik pembicaraan hangat dikota Manchester terutama menjadi perbincangan dikalangan para pendukung setia kedua klub masing-masing, mereka mulai dibanding-bandingkan dan dicari siapakah yang akan lebih bersinar dalam meniti kariernya nanti.

Menanggapi keadaan ini Kelechi maupun Rashford tak merasa risih bahkan mereka  senang dengan kabar positive ini, ini adalah kompetisi yang sehat menurut Iheanacho dan akan membuat mereka semakin mengoreksi diri untuk menggali kemampuan mereka dan bermain sebaik mungkin agar tak terlempar dari persaingan.

“Saya harap perbandingan ini akan terus berlanjut, ini adalah sebuah kondisi yang baik untuk kemajuan prestasi diantara kami berdua, kami jadi merasa masuk dalam sebuah persaingan sehat dan tentunya akan membawa dampak positive bagi perjalanan karier kami baik pribadi ataupun untuk Manchester” Sahut striker asal Nigeria itu.

Nada serupa juga diucapkan Marcus Rashford dimana dirinya merasa senang ketika menjadi topik pembicaraan perbandingan antara dirinya dengan Kenechi, “Sata rasa kami berdua tanpa dibandingpun akan bermain sebagus-bagusnya karena itu adalah pekerjaan kami, dan kami pasti akan berusaha menjadi yang terbaik dengan goal sebanyak-banyaknya, ini adalah kompetisi yang menarik untuk kami berdua”

Keduanya setuju saja ketika menjadi objek perbandingan dikalangan para pendukung kedua tim sesama kota Manchester, tantangan akan semakin asyik jika ditambah dengan perbandingan yang dibangun disisi lapangan terkait kemampuan kedua sosok striker muda ini dalam kemampuan mereka mengoleksi produktifitas goal sebanyaknya.

“Saya rasa ini akan menjadi motivasi tambahan buat kami berdua, saya rasa Rashford pasti sependapat, kami akan semakin percaya diri dan berusaha berikan yang terbaik dari diri kami untuk tampil habis-habisan disetiap kesempatan bertandingan, kami berjanji akan berkerja lebih baik dimusim depan”  ucap anak Nigeria ini.

 

Radamel Falcao dan masa suram kariernya di Premiership

EPL – Jalankan musim-musim yang buruk selama dipinjamkan ke Premier League diperkirakan akan menjadi alasan Radamel Falcao kembali ke As Monaco, bersama Manchester United ataupun Chelsea hasil yang diraih Radamel Falcao adalah sama yaitu kegagalan mencetak goal yang banyak, bersama berakhirnya musim kompetisi sepertinya pihak management Chelsea takkan perpanjang masa peminjaman dan akan mengembalikan Falcao keklub asalnya.

Dimusim silam kegagalan sudah didapat ketika dia berseragam Setan Merah dengan minimnya kontribusi yang diberikannya, namun jose Mourinho yang ketika itu masih melihat ada ‘sesuatu’ dalam diri penyerang asal Columbia itu memberi kesempatan kepadanya untuk kembali menjajal satu musim kompetisi lagi di Premier League bersama The Blues.

Tapi hasil yang didapat tak jauh berbeda dengan apa yang diberikannya ketika berjersey Manchester United, sepanjang musim kompetisi striker berusia 30 tahun ini hanya mampu persembahkan 1 goal saja untuk The Blues hal mana tak lepas dari seringnya cedera mendera yang akibatkan jarangnya dia mendapat jatah bermain.

Hampir dapat dipastikan seiring berakhirnya musim kompetisi striker timnas Colombia ini akan kembali ketempat asalnya yaitu As Monaco, hal ini juga dikonfirmasi Falcao sendiri dimana dikatakannya kalau pihak Monaco sudah mengonteknya untuk kembali kerumah musim mendatang, disaat bersamaan Falcao juga tak menepis kalau dia sudah mengadakan pembicaraan dengan beberapa klub untuk menjajaki kemungkinan bermain dimusim depan.

“Ya Monaco ingin saya kembali dan bermain disana, saat ini saya masih memiliki kontrak dengan mereka dan mereka sudah membayar untuk dapatkan hak atas diri saya, investasi ini tentu harus berbalas, saya inginkan jam main yang cukup itu saja yang saya katakan kepada mereka, tanpa jaminan bermain saya tidak akan kembali keperforma saya sebelumnya” ucap anak Colombia ini.

Di bursatransfer musim dingin bulan Januari lalu hampir saja Radamel Falcao diangkut mantap klub yang pernah dibelanya ketika dimusim *2005-09 silam River Plate, namun akibat regulasi larangan batas jumlah pemain asing yang berlaku kesepakatan terpaksa batal terlaksana.

“Ikatan saya dengan As Monaco masih menyisakan dua musim kompetisi lagi, masih ada beberapa pilihan bagi saya selain liga Argentina, pilihan ke China atau mexico juga Brazil masih belum saya coba jajaki, tapi jika inginberpindah saya lebih memilih untuk kembali ke River Plate karena saya pernah memiliki kenangan manis disana” tutur mantan pemain Atletico Madrid ini.

Untuk musim mendatang Radamel Falcao tidak dihadapkan dengan keadaan memilih ketika Chelsea tak lagi perpanjang masa peminjaman atas dirinya, hanya satu arah yaitu kembali ke liga utama Francis dan teruskan musim bersama klub yang masih memilikinya saat ini sambil menanti rencana untuk masa depan kariernya.

 

 

 

 

Louis Van Gaal siap memboyong FA Cup di Wembley

Premier League – Musim pertama memimpin di Old Trafford sang pelatih hanya mampu membawa armadanya finish diposisi keempat tanpa satupun trophy menghias, dimusim kedua hal serupa tampaknya akan kembali terulang hanya saja bedanya dimusim ini satu trophy sudah menanti untuk diraih yaitu trophy FA Cup, Louis Van gaal dan pasukannya akan lakoni partai final melawan Crystal Palace di Wembley Stadium 28 mei 2016 mendatang.

Menyambut kesempatan raih trophy pertama untuk The Red Devils mantan pelatih timnas Belanda ini tak ingin kebablasan, dirinya dan para laskar Setan Merah sudah siap kan diri jauh-jauh hari untuk pertandingan penting memenangkan laga di Wembley Stadium, namun sebelum itu kenyataan yang tak kurang pentingnya adalah mempertahankan posisi Manchester United untuk finish kompetisi seburuk-buruknya diposisi kelima.

Tiga pertandingan lagi yang akan dijalankan di Premier League Van Gaal akan upayakan 9 point tambahan untuk memastikan pasukannya berlaga di persaingan Liga Eropa dan jika mungkin Liga Champions musim depan, mereka kini berselisih 4 point dengan Citizen yang berada diposisi keempat dengan satu pertandingan sisa ditangan.

Diawali akhir pekan ini Van Gaal akan membawa pasukannya menyeberang ke kandang Norwich City yang juga sedang berjuang untuk lepas dari zona degrarasi, lantas dua pertandingan lainnya Wayne Rooney dkk akan bertandang kemarkas West Ham United akhir pekan depan dan dipertandingan terakhir mereka akan menjamu Bournemouth.

 “Menang ataupun kalah itu adalah hasil pertandingan yang harus diterima, pastinya hasil yang saya inginkan ditiga pertandingan sisa adalah kemenangan, memang tuntutan untuk menang diakhir musim sangatlah tinggi, Norwich dalam misi kemenangan untuk hindari degrarasi begitu juga kami ingin pertahankan posisi zona Liga Champions yang masih terbuka” tutur si meneer Van Gaal.

Tak ingin kehilangan kesempatan terakhir dimusim ini Van Gaal utarakan keinginannya untuk memboyong pulang FA Cup ke Old Trafford, walaupun hanya piala liga domestik namun turnamen FA Cup tak dipungkiri mempunyai gengsi yang cukup tinggi dipersaingan britania raya, dapat menjuarainya menunjukkan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan selama dua musim dirinya mengawal Manchester United.

“Target dimusim ini adalah finish diposisi keempat dan memenangkan FA Cup, tidak ada jalan lain untuk meraih itu semua kecuali memenangkan 4 pertandingan yang kini menanti untuk kami selesaikan, 3 pertandingan di Premier League dan satu pertandingan final di Wembley, saya optimis kalau tim ini dapat menyelesaikan tugas dengan baik” tambah Van Gaal.

Manchester United belum pasti finish diposisi lima besar

Barclay’s – Menyisakan 3 partai pertandingan lagi posisi Manchester United diurutan kelima dalam tabel klasemen sementara EPL masih belum aman, dengan berselisih 1 point saja West Ham United yang saat ini menempati posisi keenam siap menyalip, akhir pekan ini pasukan The Red Devils akan bertandang kemarkas Norwich City sedang West Ham United akan menjamu Swansea City.

Di pertemuan pertama ketika pertandingan berlangsung di Old Trafford pada bulan desember 2015 lalu, para laskar Setan Merah harus menerima kenyataan pahit dikalahkan Norwich City dengan score 1-2, berbalik kandang ke Carrow Road Stadium esok malam Ronney dkk bertekad membalas kekalahan dilaga pertama sekaligus menjaga posisi akhiri musim kompetisi diurutan lima besar.

Norwich City sedang dalam misi menyelamatkan posisi mereka dari terdegrarasi diakhir musim kompetisi, memenangkan 3 point dikandang akan membuka peluang mereka untuk kembali bersaing di Premier League musim mendatang, berada diurutan ke 19 kini Norwich City menyimpan total 31 point berselisi 2 point dengan Newcastle United yang berada diposisi ke 17 zona batas degrarasi.

Tentu saja Norwich City tak diunggulkan untuk menang atas Manchester United walau mereka bermain dikandang sendiri, apalagi dalam catatan lima pertandingan terakhir kedua tim tercatat kalau armada Louis Van Gaal tak tersentuh kekalahan dengan 4 kemenangan dan 1 hasil pertandingan imbang, sedang Norwich City mencatat 2 kali kemenangan dengan 3 kekalahan beruntun dipertandingan terakhir.

Menanggapi pertandingan ini pelatih The Red devils tidak berani gegabah dan tetap waspada, selalu ada sisi sulit ketika menghadapi tim yang sedang berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan degrarasi, bermain dikandang lawan adalah sebuah tingkat kesulitan tambahan lainnya menurut Van Gaal yang tak berani sesumbar kalau mereka akan menang mudah di Carrow Road Stadium.

“Tidak akan menjanjikan kemudahan kala bermain dengan tim yang sedang berusaha keluar dari zona degrarasi, tapi bukan lantas kami akan beralasan untuk kalah dalam laga nanti, mereka menang dipertemuan pertama di Old Trafford setidaknya kami harus kembalikan harga diri kemenangan dilaga nanti” ucap Van Gaal.

Sedangkan West ham United yang bermain di Boleyn Ground lebih diunggulkan untuk memenangkan laga atas Swansea City, walaupun tidak buruk penampilan Swansea City dimusim ini namun catatan hasil buruk laga tandang mereka akhir-akhir ini membuat The Swans diragukan dapat memetik tambahan nilai dikandang The Hammers.

Pertandingan diakhir pekan depan diperkirakan akan menjadi pertandingan penentuan siapakah yang akan masuk keposisi lima besar diakhir musim nanti kala West Ham United dipembunuh raksasa dimusim ini akan hadapi Manchester United, jika The Hammers mampu raih 3 point kemenangan dalam laga ini bukan mustahil armada Van Gaal terpaksa harus melupakan berkompetisi diajang Liga Eropa musim depan.

 

Ucapan selamat berdatangan untuk Leicester City dan Ranieri

EPL – Selesai sudah tugas Claudio Ranieri mengantar Leicester City menjadi kampiun di kasta tertinggi Liga Inggris musim ini, ‘From Zero To Hero’ mereka yang tak diperhitungkan mereka yang diprediksi akan menjadi tim terdegrarasi musim ini mampu merubah visi dan membalikkan keadaan menjadi tim yang paling disegani di EPL kalahkan pamor duo Manchester, Arsenal, Liverpool, Chelsea sijuara musim silam yang hanya akan finish di urutan papan tengah dimusim ini.

Pertama kalinya dalam sejarah perjalanan klub berjulukan The Foxes ini raih prestasi emas dengan menjuarai Premier League, Claudio Ranieri pelatih Italia ini pun menjadi pahlawan dan namanya akan tercatat abadi dalam tonggak sejarah sepakbola kota Leicester, dengan demikian dalam sejarah perjalanan Premier League nama Claudio Ranieri tercatat sebagai pelatih berpasport Italia ketiga yang berhasil bawa sukses tim asuhannya menjadi juara.

Dua pelatih asal Italia terdahulu yang juga berhasil raih sukses diajang Premier League adalah Carlo Ancelotti yang berhasil kawal Chelsea untuk mengangkat trophy EPL dimusim kompetisi 2009-10, lantas pelatih lainnya adalah Roberto Mancini pelatih Inter Milan saat ini yang antarkan Manchester City menjadi jawara Barclay’s saat dimusim kompetisi 2011-12.

Sepanjang sejarah perjalanan karier Claudio Ranieri sebagai pelatih ini adalah pencapaian tertinggi yang berhasil diraihnya, sukses diusia 64 tahun saat ini Ranieri pertontonkan kalau umur memang bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih keberhasilan, usai pertandingan Chelsea versus The Spurs yang berkesudahan dengan score imbang 2-2 klub Leicester City special sang pelatih Ranieri kebanjiran ucapan selamat.

Menyimpan total 77 point dan berselisih 7 point dengan Spurs diposisi runner-up dimana hanya 2 laga pertandingan tersisa Si Serigala tak lagi dapat dikejar dan mereka sudah mengunci titel juara musim ini.

Ucapan yang datang dari klub-klub mantannya Claudio Ranieri hingga perdana Menteri Britannia raya David Cameron yang memberikan apresiasi special untuk Ranieri, ada yang melalui jaringan telepon pribadi dan ada juga yang berkicau melalui tweeter walau ceremony penyerahan trophy Premier League itu sendiri masih belum diresmikan.

Juventus, Valencia bahkan Carlo Ancelotti mantan pelatih sukses Real Madrid yang segera akan memimpin Bayern Munchen musim mendatang turut memberikan kata-kata indah untuk Ranieri,”Selamat saya ucapkan untuk Leicester City dan juga sobat karibku Claudio Ranieri, kemenangan yang sekaligus mencatat sejarah baru dalam persaingan di Liga Utama Inggris” kicau akun pribadi Ancelotti.

Perdana Menteri Inggris sendiri yakni David Cameron juga memberikan kicauan merdu untuk keberhasilan Ranieri,”Pencapaian bersejarah Leicester City dimusim ini sangat luarbiasa, selamat untuk Leicester City atas gelar pertama di Premier League dan juga Ranieri atas prestasi yang ditorehkannya, perjuangan yang sangat pantas mendapatkan penghargaan tertinggi”.