Goodbye Ranieri, akhirnya pelatih fenomenal ini dipecat

The Foxes – Buruknya penampilan dan hasil yang didapat Leicester City berujung insiden pemecatan sang pelatih fenomenal Claudio Ranieri, usai membuat kejutan dimusim silam dimana dia sukses membawa The Foxes menjuarai Premier League untuk kali pertamanya, dimusim berikut peruntungan Si Rubah berubah drastis dimana hingga pekan ke 25 kompetisi berlangsung mereka harus terdampar dipintu zona degrarasi dianak tangga ke 17.

Claudio Ranieri yang menyabet penghargaan sebagai pelatih terbaik ditahun 2016 mengalahkan para pelatih berkelas dunia lainnya seperti Pep Guardiola, Zidane, Luis Enrique bahkan Antonio Conte harus mengalami nasib buruk dilengserkan dari jabatannya hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 9 bulan.

Jose Mourinho yang pernah merasakan hal serupa dimusim lalu turut memperlihatkan rasa simpati melalui akun pribadinya, “Untuk sahabatku Ranieri tetaplah tersenyum, selamat datang didunia nyata sepakbola, apapun yang terjadi tak ada seorangpun yang dapat menghapus catatan prestasi yang sudah kau goreskan dalam sejarah sepakbola ini, menjuarai Premier League dan meraih penghargaan sebagai pelatih terbaik FIFA 2016 adalah bukti nyata”.

Dimusim 2014-15 Mourinho juga mencatat sejarah hampir serupa ketika dia berhasil antarkan Chelsea menjuarai Premier League lantas dimusim berikut diapun diberhentikan dari pekerjaannya dipertengahan musim kompetisi akibat hasil buruk yang didapat, tak ada cerita melihat record jasa dalam dunia nyata sepakbola, ketika anda meraih prestasi anda akan disanjung dan anda akan dicampakkan kemudian ketika hasil buruk didapat.

Sejarah membuktikan semuanya, tak ada yang abadi selain prestasi dan konsistensi kemenangan didunia sepakbola, Ranieri adalah contoh satu diantara sekian pelatih yang mengalami nasib tak jauh berbeda, tak ada rasa beban didada ketika konsekuensi dari hasil buruk pertandingan berakhir pemecatan terjadi.

Pihak managemen King Power Stadium belum menentukan dan menunjuk sosok pelatih pengganti yang akan mengisi kekosongan kursi Claudio Ranieri, untuk sementara Leicester City akan ditangani asisten pelatih yang sedang bertugas sampai pelatih baru didatangkan.

Frank Sinclair mantan bek Leicester City diera 1998-2004 menyayangkan insiden pemecatan Ranieri dan ikut berkomentar, menurutnya tidak lantas seorang pelatih harus dipermasalahkan dan tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaannya hingga keakhir musim kompetisi ketika hasil buruk didapat.

Menurutnya kesalahan bukan melulu ada diposisi seorang pelatih, semua kru dan pemain yang terlibat langsung ataupun tidak dilapangan pertandingan turut ambil bagian dari kekalahan, dosa hasil buruk tidak harus ditanggung oleh seorang pelatih semata, menurutnya adalah tidak adil untuk Claudio Ranieri yang sudah membuat sejarah bagi klub untuk diberhentikan secara tidak hormat ditengah perjalanan musim kompetisi.

“Saya pikir semua pemain juga memiliki andil besar dari hasil buruk yang didapat, ini adalah permainan tim jadi semua orang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk memenangkan sebuah pertandingan, ketika pelatih dijadikan kambing hitam itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat diterima, bangkit dan jatuh adalah resiko sebuah kompetisi dan klub ini bukan berada diposisi ini untuk pertama kalinya, saya pernah menjadi bagian dari jatuh bangunnya klub ini” ujar sang mantan.

Sinclair justru mempertanyaakan semangat juang para pemain yang menurutnya menghilang dari apa yang sudah mereka perlihatkan dimusim lalu, menurutnya itu adalah fokus dan akar masalah tim sebenarnya dimusim ini, Ranieri sudah berkerja sebagaimana porsinya melatih dan memasang strategi dan menurutnya tidak ada yang salah dengannya, bek asal Jamaica kelahiran kota Lambert London ini menambahkan.

 

 

 

 

Jamie Vardy membuka goal pertamanya di ajang Liga Champions

Seville – Walaupun kalah dikandang Sevilla namun Jamie Vardy berhasil membobol gawang kubu tuan rumah, hasil akhir 2-1 masih membuka peluang bagi The Foxes untuk terus berada dalam kompetisi satu-satunya yang tersisa di Liga Champions ini, kawanan Rubah dari kota Leicester ini sudah tersisihkan didua kompetisi domestic Piala Liga Inggris dan juga FA Cup kemudian di Premier League mereka harus berjuang keras untuk tidak terdegrarasi diakhir musim nanti.

Dihadapan pendukung setia mereka Sevilla bermain dengan sangat aggresif semenjak pertandingan dimulai, hampir membuka kemenangan dimenit ke 14 ketika Clemen Turpin wasit pemimpin pertandingan menunjuk titik putih saat Wes Morgan menjatuhkan Joaquin Correa didalam kotak penaty.

Namun berkat kepiawaian Kasper Schmeichel eksekusi penalty yang dilakukan oleh Joaquin Correa dapat digagalkan, baru 11 menit kemudian sebuah sundulan yang dilakukan Pablo Sarabia menerima umpan dari Sergio Escudero berhasil membuka kemenangan untuk Sevilla, score 1-0 menutup pertandingan dibabak pertama.

Tempo pertandingan tidak menurun ketika memasuki babak kedua, para pemain Jorge Sampaoli benar-benar memaksimalkan pertandingan dikandang sendiri dengan terus mendominasi jalannya pertandingan, perbandingan persentase 68:32 adalah  angka yang tercatat dengan 20 upaya tendangan bola terjadi yang 8 darinya tepat mengarah gawang, sedang kubu si Rubah hanya mencatat 5 shooting kearah gawang dengan 2 tembakan on target.

Gagal membuat goal dari titik putih penalty pada akhirnya dapat dibayar tunai Joaquin Correa ketika dia berhasil menjaringkan bola kegawang Kasper dimenit ke 62, sebuah assist dari Stevan Jovetic mampu disempurnakan olehnya menjadikan goal kedua buat kemenangan Sevilla, 11 menit setelahnya giliran Jamie Vardy berhasil mencuri kesempatan mencetak goal manfaatkan assist dari Danny Drinkwater.

Top scorer The Foxes dimusim silam terlihat kesulitan mencari goal dimusim kali ini, usai antarkan rombongan Rubah juarai kompetisi Premier League musim lalu Jamie Vardy harus melewati masa paceklik goal, penantian sepanjang 748 menit pertandingan disegala ajang kompetisi untuknya kembali mencetak goal adalah sebuah penantian cukup panjang.

Selain membuka peluang bagi Leicester City dengan goal yang dihadirkannya di Stadium Ramon Sanchez Pizjuan dileg pertama ini, goal Jamie Vardy ini memiliki nilai sejarah tersendiri bagi striker kelahiran kota Sheffield Inggris ini dimana ini adalah untuk pertama kalinya dia mencetak goal dikompetisi Liga Champions.

“Goal ini sangat berarti bagi saya, ini adalah untuk pertama kalinya saya mampu mencetak goal dalam kompetisi dengan klub-klub terbaik didaratan Eropa, dan saya ingin katakan kalau goal ini saya persembahkan untuk anak saya Finley, dia selalu menjadi motivasi saya untuk tampil habis disetiap pertandingan untuk mendapatkan goal kemenangan” ujar Vardy.

Laga balik kandang berikut akan berlangsung di King Power Stadium pada pertengahan maret 2017 mendatang, pasukan Claudio Ranieri hanya butuh mencari 1 goal saja dipertandingan nanti untuk memastikan langkah mereka lolos kebabak 8 besar, pekerjaan yang tampaknya mudah tapi tim yang akan mereka hadapi adalah Sevilla dipenghuni posisi ketiga klasemen sementara La Liga saat ini.

 

Leicester City harus selamatkan FA Cup sebelum Premiership

King Power Stadium – Berada diposisi sulit saat ini Claudio Ranieri tak ingin mencari kambing hitam akar permasalahan yang kini dihadapi Leicester City, dirinya lebih fokus untuk memperjelas jati diri dan mencari kemana larinya kekuatan yang mereka miliki musim silam, 13 pertandingan tanpa kemenangan sudah cukup menjadi cambuk bagi seisi timnya.

Bermain imbang 2-2 di kandang Derby County di kancah FA Cup babak putaran keempat, dini hari nanti 9 February 2017 laga playoff balik kandang kembali harus mereka lakoni, semakin terpuruk di peta tangga klasemen sementara dimana mereka sudah berada dimulut zona degrarasi diposisi ke 16, tentunya Ranieri inginkan kemenangan dan tak ingin kehilangan asa yang masih tersedia diajang Piala FA.

Walau akan menghadapi tim penghuni kasta Championship boss asal Italiano itu tak berani memandang remeh bakal calon lawan mereka, bermain dikandang sendiri tentu saja The Foxes berada diatas angin dan lebih diunggulkan untuk memenangkan laga dan lolos, tapi hasil dipertandingan pertama membuat Ranieri mempersiapkan barisannya lebih matang jelang laga ini.

“Derby County bukan tim lemah, mereka bermain dengan penguasaan ball position yang cukup bagus dan bisa saja menyulitkan, walaupun mereka diliga Championship baru saja kalah dari Newcastle United tapi itu bukan ukuran kepastian bagi kami raih kemenangan dilaga nanti, saya yakin ini akan menjadi pertandingan yang cukup berat dan menyita energy lebih” ungkap pria berusia 65 tahun itu.

Tak perlu banyak goal untuk mengantarkan Si Rubah lolos kebabak selanjutnya dari FA Cup di King Power Stadium dini hari nanti, Claudio Ranieri hanya meminta 1 goal saja dari para pemainnya untuk memuluskan perjalanan mereka, namun menjaga gawang mereka dari kebobolan lebih diprioritaskannya.

“Sebenarnya sepakbola tidak terlalu rumit, hanya perlu satu kesempatan membuat goal maka semua persoalan akan teratasi, harus diakui akhir-akhir ini kami sedang kesulitan mendapatkan apa yang dibutuhkan dalam sepakbola yaitu goal, tapi masih ada  14 laga tersisa bagi kami untuk perbaiki keadaan, kami harus mengamankan dulu FA Cup sebelum kemudian berbenah untuk ajang kompetisi lainnya yang tersisa” imbuh Ranieri.

Diposisi ke 16 kini The Foxes hanya berselisih 1 point dengan Hull City diurutan ke 17 dan 2 point dari Suderland yang saat ini mendekam dianak tangga ke 18, beredar berita kalau kini Claudio Ranieri mulai kehilangan wibawanya diruang ganti, kabar menyebutkan kalau gerombolan Rubah dari Leicester City ini kini sudah tidak lagi rukun.

Tanggapi rumor miring ini Schmeichel kiper utama The Foxes asal Denmark memberikan klarifikasi, dikatakan kalau dirinya dan keseluruh squad siap berkerjasama untuk mengembalikan pamor mereka, sebagai tim juara bertahan posisi saat ini sungguh tidak dapat diterima dan memalukan.

“Tidak benar berita murahan itu, yang ada kami semua saat ini sedang menggalang kekuatan, jika dikatakan kalau kami kehilangan kepercayaan diri itu adalah wajar, tapi kami tidak pernah menyerah dan terus berupaya untuk kembali bangkit keperform terbaik seperti yang pernah kami perlihatkan” ujar putra dari matan kiper utama Manchester United Peter Schmeichel.

“Tidak ada satupun dari kami yang inginkan tim ini terdegrarasi itu saya jamin, kami semua siap berjuang hingga kepenghujung musim pertarungan, ini bukanlah kondisi nyaman bagi kami saat ini, kami menjuarai kompetisi musim lewat dan kami akan berikan  yang terbaik untuk tim ini” tutup Schmeichel.

 

 

Leicester City semakin dekat dengan zona degrarasi

King Power Stadium – Bermain dikandang sendiri di King Power Stadium malam tadi Leicester City kembali harus menelan kegagalan untuk kesekian kalinya, bertemu dengan laskar Setan Merah mereka harus kebobolan 3 goal yang membuat posisi sang juara bertahan semakin terpuruk ditangga klasemen sementara, saat ini The Foxes sudah berada diambang pintu degrarasi diposisi ke 16 menyisakan 14 laga pertandingan lagi menuju finish musim kompetisi.

Ketiga goal kemenangan untuk Manchester United dicetak masing-masing oleh Henrik Mkhitaryan dimenit ke 42 disusul goal kedua dari Zlatan Ibrahimovic selang 2 menit kemudian, babak pertama berakhir dengan score 0-2 untuk kemenangan pasukan Jose Mourinho, kemudian dibabak kedua Juan Mata menutup kemenangan dengan goalnya yang tercipta dimenit ke 49.

Si Rubah yang dimusim sebelumnya membuat kejutan dan mencetak sejarah sedang menghadapi permasalahan serius diperjalanan persaingan musim ini, mereka baru mengumpulkan total perolehan 21 point saja hingga 24 pekan kompetisi berjalan, dengan kekalahan dari Manchester United ini mereka sudah memasuki 13 pekan pertandingan kekalahan beruntun.

Sepertinya persaingan Claudio Ranieri diajang Premier League untuk musim ini sudah tamat, tidak ada harapan lagi baginya untuk mengembalikan kejayaan tim sebagaimana diperlihatkan dimusim lalu, tinggal satu harapan meraih trophy yang masih tersisa untuk diperjuangkannya yakni diajang Liga Champion dimana mereka sudah lolos kebabak 16 besar saat ini.

“Musim yang sulit ketika kekalahan panjang sudah menghantui mental para pemain kami, masih ada 15 pekan pertandingan bagi kami untuk memperbaiki keadaan, kemenangan saat ini sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain kami dan saya harus fokus untuk itu” ucap pelatih asal Italia itu.

Ketiga tim penghuni papan bawah yang sedang berjuang untuk menghindari posisi zona degrarasi yakni Middlesbrough (posisi 15) Leicester City (posisi 16) dan Swansea City (posisi 17) memiliki koleksi nilai sama 21 point, jika Middlesbrough sudah menjalankan 24 laga pertandingan Leicester City dan Swansea City baru melalui 23 laga pertandingan saja.

Sementara The Foxes sedang berjuang keras melepaskan diri dari jeratan degrarasi Manchester United dan Manchester City berhasil menambah 3 point kemenangan dipekan bersamaan, Mancheste City berhasil membekuk Swansea City dengan kemenangan 2-1, kemenangan ini menggeser posisi Citizen naik 2 peringkat keposisi ketiga dalam tangga klasemen sementara menggeser Arsenal dan Liverpool.

Arsenal (47 point) yang kehilangan nilai dipekan ini ketika mereka dikalahkan Chelsea di Stamford Bridge dan Liverpool (46 point) yang juga mengalami nasib serupa kala bertandang kemarkas Hull City terpaksa harus rela dilangkahi Manchester City (49 point).

 

Claudio Ranieri mengenang sukses ‘1001’ malam The Foxes

Leicester – “Musim lalu adalah musim impian bagi kami ketika kami yang tidak diperhitungkan dapat keluar sebagai juara Premier League”, ini ungkapan Claudio Ranieri ketika dalam sebuah kesempatan wawancara dengan awak media, “Pada awalnya kami hanya ingin mencapai hasil terbaik  dan ketika kami sudah raih 40 point ada sebuah tantangan baru muncul dibenak, kenapa tidak kami mencoba untuk buat kejutan?”

Sebagai seorang pelatih kawakan yang sudah memulai karier semenjak tahun 1986 The Foxes adalah klub ke 15 yang dilatihnya sepanjang perjalanan, banyak sudah dirinya memenangkan penghargaan ketika menjalankan tugasnya, namun pencapaian dimusim 2015-16 bersama Leicester City adalah yang paling berkesan baginya.

Bukan saja karena mampu menjuarai sebuah liga besar yang paling digandrungi tapi mampu mengalahkan pamor duo Manchester, Arsenal, Liverpool, Spurs adalah sebuah kebanggaan lainnya yang dirasakan, dan yang paling membumbung adalah berhasilnya dia mengukir sejarah dalam perjalanan klub Leicester City sebagai pelatih yang berhasil mempersembahkan piala Premier League untuk pertama kalinya.

“Saya rasa adanya faktor keberuntungan juga yang membawa kami menjuarai kompetisi tahun lalu, ketika kami mencoba untuk terus meraih hasil positive disaat yang sama klub-klub papan atas sedang berada dalam kondisi labil dengan hasil tak tentu, semua mata tak memandang ke kami selain klub-klub besar, kami seperti berada dalam dongeng 1001 malam ketika kami berhasil menggondol piala” lanjut Ranieri.

Berada dalam kondisi sulit dimusim ini dimana Si Rubah masih harus berjuang keras melepaskan diri dari jeratan zona degrarasi, pria berusia 65 tahun ini mengakui kalau dirinya tak terpengaruh dengan sukses dimusim lalu, bagi dia itu sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dirinya dan dia akan terus menatap kedepan karena ini adalah bagian dari perjalanan kariernya saat ini.

“Sepakbola memang tidak pernah statis, ini adalah olahraga dinamis dan selalu saja dapat berubah setiap saat, apapun yang saya hadapi itu adalah kenyataan dan tidak perlu terlalu dijadikan beban, walau dalam kondisi pelik kami tidak akan pernah menyerah, masih panjang perjalanan menuju ke garis finish” imbuh pria Italia ini.

21 pekan pertandingan Premiership sudah berlalu The Foxes baru mampu gapi 5 kemenangan dengan 10 kekalahan dan 6 hasil laga sama kuat, berada diposisi ke 15 sekarang Leicester City baru memyimpan nilai 21 point, tertinggal jauh dari Chelsea yang memimpin klasemen sementara dengan raihan nilai 52 point saat ini.

Leicester City dipermalukan Chelsea dikandang sendiri

King Power Stadium – Leicester City sang juara bertahan terpaksa harus menanggung malu ketika mereka  tak mampu mengatasi Chelsea dirumah mereka sendiri, dini hari tadi di King Power Stadium gawang Kasper Schmeichel kebobolan untuk 3 kali melalui goal dari Marcos Alonso (6’, 51’) dan Pedro Rodriguez (71’), datang ke Stamford Bridge pada musim ini Marcos Alonso baru tercatat menjalankan 16 laga pertandingan dengan hasil 1 goal sebelum laga ini.

Tentu hasil ini menjadi tamparan bagi Claudio Ranieri yang baru saja mendapat penghargaan sebagai pelatih terbaik untuk musim kompetisi 2015-16 baru lewat, sebenarnya tidak buruk penampilan dari Jamie Vardy dkk ketika mereka yang kalah dalam dominasi permainan bola mampu membuat 7 bola tembakan dengan 2 darinya yang tepat sasar, adalah 2 bola berbahaya lebih banyak dibanding tamu mereka.

Unggul dengan perbandingan 65:35 pasukan Antonio Conte melepas 5 bola berbahaya dimana 3 darinya tepat mengarah gawang dan ketiganya menghasilkan goal, hasil akurasi ini bisa membuat penjelasan kalau dimusim ini squad racikan Claudio Ranieri lemah dan rapuh serta tumpul, 21 pekan pertandingan berlalu mereka hanya mampu meraih nilai 21 point hasil 5 kali menang 10 kali bermain imbang dan 6 kali kekalahan.

Menghawatirkan ketika mereka semakin dekat dengan pintu gerbang menuju degrarasi dikala kompetisi menyisakan 17 laga pertandingan lagi menuju finish, hasil yang tidak berimbang didapat dimana mereka hanya tercatat mengantongi 23 goal memasukkan dan kebobolan 34 bola.

“Kebobolan dimenit awal adalah sebuah kesalahan dari kami yang membuat pertandingan selanjutnya menjadi sedikit tegang, secara keseluruhan saya melihat permainan cukup efektif ketika kami membuat lebih banyak peluang bola berbahaya, hanya saja disayangkan ketika dihadapkan dengan penyelesaian akhir kami selalu gagal mecetak goal” ucap Ranieri.

“Tapi harus diakui Pedro, Hazard dan Willian tadi bermain sangat brilliant, harusnya kami meningkatkan kewaspadaan dan tidak memberi ruang gerak kepada mereka untuk mengembangkan permainan, kesalahan yang harus dibayar mahal namun kami tidak boleh larut dalam suasana ini, kami harus siap fokus menatap pertandingan mendatang” lanjut pelatih berdarah Italia itu.

Boleh saja Leicester City lemah dikompetisi Premier League tapi diajang persaingan Liga Champions mereka sukses lolos dan melangkah hingga kebabak 16 besar sebagai juara group G, dalam pengundian mereka dipertemukan dengan Sevilla dan akan terlebih dahulu bertandang ke Stadium Ramos Sanchez Pizjuan, sebuah pertandingan maha sulit akan menguji kemampuan mereka hadapi tim runner-up La Liga saat ini.

Namun sebelum menghadapi pertandingan keras Liga Champions ini ada 5 laga domestik sudah menanti untuk mereka jalankan terlebih dahulu,  4 laga tandang ke Southampton,Derby County (FA Cup), Burnley dan Swansea City kemudian satu pertandingan lainnya akan berlangsung di King Power Stadium kala mereka dijadwalkan untuk menjamu Manchester United.

 

Penghargaan FIFA Award 2016 berlangsung di Zurich

Swiss – Segala bentuk penghargaan yang dirangkul dengan berbagai macam kategori dipersembahkan assosiasi sepakbola dunia FIFA, bertempat di Zurich Swiss tadi malam 9 january 2017 acara pemberian pengakuan kepada para pelaku sepakbola dunia berupa trophy berlangsung, dari kategori pelatih terbaik, pemain terbaik hingga ke susunan klub terbaik sepanjang tahun 2016 mendapatkan appresiasi.

Untuk kategori pelatih terbaik ada nama Zinedine Zidane, Fernando Santos, Pep Guardiola yang masuk dalam kategori dan Claudio Ranieri lah yang mendapatkan kehormatan untuk menyandang penghargaan sebagai pelatih terbaik di tahun 2016 versi dunia.

Walau Zidane berhasil menyumbangkan piala Liga Champions untuk Real Madrid dan Santos membawa Porto menangkan Piala Eropa dimusim bersangkutan tapi Ranieri dinilai lebih pantas untuk membawa pulang trophy, ini karena dia berhasil merubah sejarah perjalanan Leicester City yang dipimpinnya dari yang hampir tergedrarasi dimusim sebelumnya menjadi juara Premier League untuk pertama kalinya.

“Malam yang luar biasa buat saya, berada diantara para pelatih dunia yang masuk nominasi saya sangat tersanjung terpilih sebagai yang terbaik, musim yang paling menakjubkan dalam perjalanan hidup karier saya bersama Leicester City, terima kasih untuk semuanya dan terima kasih untuk kerja sama para pejuang The Foxes tanpa mereka ini semua tidak akan terjadi” ucap Ranieri diatas pentas.

Sebagai pelatih klub wanita terbaik disabet oleh Silvia Neid Neid pelatih tim wanita Jerman yang berhasil membawa pulang medali emas diajang Olympiade yang berlangsung di Rio De Jeneiro 2016 lalu, ini adalah trophy ketiga bagi Silvia dimana sebelumnya dia menerima trophy yang sama ketika ditahun 2010 – 2013.

Cristian Ronaldo lagi-lagi dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA untuk tahun kategori 2016, ini adalah tahun paling mengesankan bagi CR7 ketika dia baru saja memastikan trophy Ballon d’Or 2016 terukir atas namanya, sukses luar biasa bagi pria Portugal berusia 31 tahun ini baik ditingkat klub ataupun di tingkat International.

Bersama Real Madrid CR7 berhasil merebut piala Liga Champion kemudian bersama Portugal dia juga berhasil membawa pulang Piala Eropa pertama bagi negaranya, tak berlebihan jika dia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia melampaui Lionel Messi juga Antoine Griezmann yang juga masuk sebagai nominasi dalam acara yang digelar FIFA tersebut.

“INi adalah salah satu tahun terbaik saya sepanjang karier, saya ingin berterima kasih kepada seluruh keluarga besar Real Madrid, pelatih dan rekan-rekan tim yang luar biasa, kemudian kepada seluruh keluarga saya yang selama ini menjadi penyemangat dan inspirasi ketika saya berada dalam keadaan lemah…terima kasih untuk semuanya” kata sambutan dari Ronaldo diajang FIFA The Best Football Award.

Sepanjang tahun 2016 Cristian Ronaldo melakoni sebanyak 57 pertandingan disegala ajang klub juga International dengan menghasilkan 55 goal, pemberian suara dilakukan melalui voting dengan keterlibatan para kapten, pelatih, Jurnalis dan juga polling online dari para fans semua pecinta sepakbola dunia.

Ada penghargaan pemain pria terbaik tentu juga ada penghargaan untuk pesepakbola wanita terbaik dunia, adalah Carli Lloyd gelandang timnas Amerika Serikat kembali untuk kedua kalinya diberkahi dengan trophy pemain wanita terbaik dunia versi FIFA 2016 setelah diganjal trophy yang sama ditahun sebelumnya.

Ditahun 2015 dirinya mendapat penghargaan sebagai pemain wanita terbaik 2015 seiring suksesnya timnas Paman Sam menjuarai ajang Piala Dunia Wanita 2015, ditahun ini kembali Carli mengungguli beberapa nominasi lainnya seperti Marta (Brazil) dan Behringer (Jerman).

“Jujur saja saya sama sekali tak terpikir akan kembali memenangkan penghargaan ini, saya berterima kasih kepada rekan-rekan sepermainan karena tanpa mereka semua saya tidak bisa berbuat banyak, juga special saya ucapkan terima kasih kepada pelatih Jill Ellis yang sangat-sangat berpengaruh dalam membentuk saya menjadi seperti ini sekarang” tutur Carli saat member kata sambutan.

Diusia 34 tahun saat ini Carli masih memiliki prestasi yang termasuk sangat lazim, sepanjang tahun 2016 dirinya terlibat dalam 21 laga pertandingan disegala ajang kompetisi dan berhasil mengantongi 17 goal dengan 11 assist terlahirkan.

Adapun kategori edisi terbaru yang diluncurkan oleh FIFA adalah kategori FIFA Fans Award, penghargaan ini diperuntukan kepada para fans pendukung yang paling kompak dan memperlihatkan solidaritas yang tinggi ketika memberikan support kepada tim yang mereka bela, adalah supporter Liverpool dan Borussia Dortmund yang mendapatkan kehormatan untuk pertama kalinya menerima trophy tersebut.

Panggung terbaik yang terpilih memenangkan kategori Fans Award 2016 adalah ketika pertandingan Liverpool vs Borussia Dortmund diajang Liga Eropa 14 april 2016 silam, kala itu para supporter kedua kubu ramai-ramai menyanyikan lagu ‘You’ll Never Walk Alone’ ketika pertandingan akan dimulai, hal yang indah sekali mempertontonkan keakraban dan persaingan yang luar biasa fair.

Aksi ini pun mendapatkan appresiasi dan melahirkan ide bagi FIFA untuk perlunya memberikan penghargaan khusus guna melahirkan moment keakraban serupa dipertandingan pertandingan mendatang, tanpa adanya kerusuhan dan fanatisme berlebihan bagi para supporter dalam hal memberikan semangat yang positive kepada klub yang mereka idolakan.

Sebagai perwakilan kedua kubu untuk menerima trophy Liverpool mewakilkan Suzanne Black dan Borussia Dortmund mewakilkan Torsten Schild, Jurgen Klopp menyambut baik kategori terbaru dari FIFA ini dan melihat sisi yang sangat positive darinya.

“Saya sangat setuju dengan pemberian penghargaan ini, ini bisa memompa semangat supporter untuk memperlihatkan keakraban yang memang seharusnya dipertontankan, sebagai pendukung memang seharusnya memberi semangat positive dalam hal pengaruh mereka untuk permainan tim dalam bentuk keakraban ini adalah contoh yang harus terus dijaga” ucap Klopp.

Sebagai mantan pelatih Dortmund sekaligus pelatih Liverpool saat ini Jurgen Klopp sekaligus mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang memberikan suara, “Saya mewakili seluruh staff dan para supporter Liverpool dan juga Dortmund yang pastinya sangat bangga dengan prnghargaan ini untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya” imbuh Klopp.

Untuk penghargaan goal terbaik versi FIFA Award 2016 diraih oleh pemain asal Malaysia Mohamad Faiz Subri, satu goal darinya yang dicetak ketika membela klubnya Penang FA hadapi Pahang FA pada tanggal 16 febr 2016 silam membuahkan sebuah trophy, ini adalah pertama kalinya terjadi dalam sejarah sebuah goal terbaik terlahirkan dari kaki seorang pesepak bola asal Asia.

Goal yang dinilai terbaik mengalahkan goal-goal dari pemain terbaik dunia sekelas Ronaldo atau Messi terjadi dari luar kotak penalty, kala itu Subri mengeksekusi sebuah tendangan bebas dari titik yang cukup jauh dari gawang, bola tendangan darinya yang terlihat mengarah kesisi kanan kiper ketika ditendang berubah haluan diudara dan mencapai pojokan atas kiri kiper dan buahkan hasil goal super cantik, kiper lawanpun hanya terdiam dan terpelongok tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Terima kasih tak terhingga untuk pelatih, teman-teman tim, keluarga, dan para pemilih yang sudah memberikan kehormatan luar biasa dengan memilih saya, tak pernah terpikirkan kalau goal tersebut bisa mensejajarkan saya untuk berdiri disini diantara para pemain dunia yang terus terang menjadi idola saya selama ini…terima kasih” ucap Faiz Subri.

 

Claudio Ranieri keluhkan semangat juang timnya yang sirna

The Foxes – Sang juara Premier League musim baru lewat Leicester City sedang melalui ujian berat musim ini dimana mereka sedang berhadapan dengan garis degrarasi, baru hampir setengah perjalanan musim kompetisi berlalu The Foxes terjun bebas dari tangga klasemen sementara, berada diurutan ke 16 dengan hanya menyimpan 17 point sang juara harus berjuang keras disisa 20 pertandingan menuju akhir musim 2016-17.

Hal pemicu adalah menurunnya perform para personil yang dimusim lalu bersinar seperti Riyad Mahrez juga Shinji Okazaki dan Jamie Vardy, sang manager Leicester City pun mulai mengeluh dan menyentil meminta para pemainnya untuk lebih berkerja professional, dia memberi contoh para pemain dunia berkelas seperti Lionel Messi juga Cristian Ronaldo yang tak pernah mengenal kata puas dalam perjalanan karier mereka baik di klub ataupun di timnas.

Sebagaimana Messi yang sudah meraih 5 medali Ballon d’Or kemudian Ronaldo dengan 4 kali menyabet piala yang mewakili prestasi mereka sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA, kedua nya tak pernah terlena dan merasa puas dengan apa yang sudah dicapai mereka, mereka tetap bermain dengan perasaan lapar dan haus goal disetiap kesempatan dan musim kompetisi.

“Apa yang diperlihatkan kedua pemain terbaik dunia itu harusnya menjadi ilham bagi para pemain lainnya yang ingin terus maju dalam prestasi karier mereka, mereka tak pernah merasa cukup puas dengan apa yang sudah didapat dan terus mengasah diri untuk senantiasa menjadi yang terbaik disetiap tahunnya, rasa itu yang saya lihat kurang disini” ucap Ranieri.

Jalani masa keemasan dimusim 2015-16 Riyad Mahrez mendapat penghargaan dari asosiasi PFA untuk predikat sebagai The Best Player of the year, lantas dia juga menraih penghargaan sebagai pemain terbaik Afrika pada musim bersamaan, bersama Leicester City winger Algeria ini berhasil mengoleksi 17 goal ketika mengantarkan ‘Si Rubah’ menjuarai kompetisi Premiership musim silam, namun perform individu yang dipertontonkannya memasuki musim anyar jauh menurun dimana baru 3 goal didapat hingga 18 pekan pertandingan berlalu.

“Saya rasa ini bukan berlaku untuk Riyad saja ketika penampilan tim menjadi sorotan, penghargaan jangan membuat perubahan permainan justru sebaliknya, tak ada salahnya jadikan Ballon d’Or sebagai sasaran prestasi selanjutnya bukan berpuas diri dan bangga dengan apa yang sudah diraih, saya belum melihat penampilan terbaik dari tim ini seperti apa yang terlihat dimusim sebelumnya” tambah pelatih berdarah Italia itu.

Ini adalah permainan tim dan Claudio Ranieri mengharapkan semangat kembali dikobarkan dari para pemain yang dimilikinya, Jika semua bisa kembali menyalakan semangat tak susah bagi tim ini untuk kembali merangkak dan memperbaiki posisi mereka ditangga klasemen hingga batas finish nanti, dirinya merindukan semangat tempur dari sosok Riyad Mahrez, James Vardy dan juga Shinji Okazaki sebagaimana yang ada pada timnya musim lalu.

“Saya sangat berharap kontribusi dari semuanya, bukan hanya Riyad sendiri ataupun Vardy atau Okazaki saja tapi semuanya, peran semuanya adalah penting untuk mengembalikan klub dalam persaingan, saya yakin semua akan berubah menjadi fantastis jika semangat kembali berkobar” tutup Ranieri.

 

Ranieri harap The Foxes kembali bangkit di Premier League

The Foxes – Claudio Ranieri mengharapkan kemenangan atas Crystal Palace diakhir pekan silam menjadi menyemangat tim asuhannya, usai menjuarai Premier League musim silam The Foxes hadapi masa sulit dimusim baru sekarang, 9 pekan pertandingan berlalu mereka baru raih 3 kemenangan dengan 4 kekalahan dan 2 hasil pertandingan imbang dan harus berkutit dipapan tengah menempati posisi ke 12 dengan perolehan nilai 11 point.

Focus seakan terpecah ketika mereka harus menjalankan gaya hidup sebagaimana sebuah tim raksasa dalam persaingan papan atas dengan kepadatan jadwal pertandingan, mereka harus bertarung disegala ajang liga domestic ditambah kegiatan Liga Champions, mungkin inilah yang membedakan kinerja tim dari musim sebelumnya dimana mereka bisa lebih fokus ketika hanya menjalankan laga domestic.

Pergantian beberapa sosok penting dalam squad turut diperkirakan menjadi penyebab menurunnya performa tim sepanjang awal musim bergulir, namun ada sisi positive ketika Leicester City yang tampil menghawatirkan di Premiership tampak perkasa di ajang persaingan Liga Champions, hal ini membuat pelatih asal Italia ini masih menilai kalau tim asuhannya tidak bisa dibilang gagal total masuki musim anyar ini.

Berada di kualifikasi group G Liga Champions The Foxes sejauh 3 pertandingan berlalu sudah mengumpulkan nilai penuh 9 point, tampaknya mereka sudah hampir dapat dipastikan akan lolos kebabak selanjutnya, Copenhagen dan Porto masing-masing menyimpan 4 point sama sementara Club Brugge berada diposisi juru kunci diposisi terakhir tanpa nilai dengan 3 hasil kekalahan beruntun.

Dengan perginya N’Golo Kante dari barisan inti Leicester City membuat posisi gelandang sedikit melemah, beruntung James Vardy, Riyad Mahrez, Daniel Drinkwater dan Shinji Okazaki masih tetap bisa dijadikan andalan, jika dimusim silam Ranieri mampu memberi semangat kepada para pemainnya dengan menyediakan Pizza gratis disetiap pertandingan tanpa kebobolan goal tampaknya dimusim ini tidak berlaku lagi.

Namun demikian Ranieri tidak lagi khawatir ketika didalam barisannya dimusim ini dia memiliki satu sosok pembeda yang benar-benar ulet dan energik disetiap pertandingan, dialah Shinji Okazaki striker asal Jepang yang selalu bermain tanpa kehabisan tenaga, dialah yang selalu menjadi ilham pembangkit semangat bagi rekan-rekan satu timnya ketika stamina mereka menurun.

“Dia adalah tipe pemain yang sangat rajin menyambut bola, dimana bola berada dilapangan disitu selalu ada dia, walaupun dia tidak selalu berada disekitar gawang namun disaat posisi bola berada diwilayah kotak penalti Okazaki akan tampak berada disekitar, kehadirannya sangat membantu dan selalu dialah yang menjadi pendongkrak semangat tempur tim ini” ucap Ranieri.

Shinji Okazaki sempat terlupakan dan tak diberi peran oleh Claudio Ranieri ketika dia gagal bermain cantik kala Leicester dikalahkan Liverpool dengan score cukup telak 1-4, menjadi penghias bangku cadangan untuk beberapa  pekan pertandingan dia kembali diberi kesempatan sebagai starter dipertandingan melawan Crystal Palace pekan lalu, tak membuang kesempatan dia kembali perlihatkan kemampuannya dengan menyumbang 1 goal dikemenangan 3-1 dalam laga tersebut.

Akhir pekan mendatang dipekan ke 10 ketajaman dan konsistensi kemenangan The Foxes kembali akan diuji di Stadium White Hart lane markas Tottenham Hotspur, ini adalah pertandingan berat bagi armada Claudio Ranieri ketika The Spurs juga sedang berambisi menggeser posisi, berada diurutan kelima Spurs hanya tertinggal 1 point dari Manchester City yang menduduki puncak klasemen sementara Premier League.

 

 

 

Drinkwater siap mencuri hati Sam Allardyce

The Foxes – Sebagai salah satu jebolan akademi Manchester United Daniel Noel Drinkwater belum pernah sekalipun bermain untuk The Red Devils, pria kelahiran kota Manchester 5 maret 1990 ini sudah menjadi bagian dari Old Trafford sejakn tahun 2008, namun selama 4 musim kompetisi *2008-12 sebelum dirinya merapat ke King Power Stadium dia jalankan musim berpindah-pindah sebagai pemain pinjaman.

Perkuat The Foxes Danny Drinkwater yang kini berusia 26 tahun sudah menjalankan total 165 laga pertandingan dengan hasil 12 goal, dari hasil goal yang didapat Drinkwater tidak special tapi tidak demikian ketika melihat dia beraksi dilapangan pertandingan, tak dipungkiri kerjasama tim yang dipertunjukkannya dengan Riyad Mahrez, N’Golo Kante dan Jamie Vardy adalah yang membawa sukses Leicester City juarai Premier League musim lalu.

Masuki musim anyar tantangan baru untuk sang juara semakin berat untuk pertahankan gelar, selain jadwal di liga domestic yang sudah cukup padat Si Rubah masih harus mempersiapkan diri untuk mempertunjukkan kepada dunia kalau mereka juga akan mampu bersaing di benua Eropa, Liga Champions akan semakin memperjelas jati diri mereka sebagai sebuah klub yang pantas menyandang predikat juara.

Drinkwater masih menyimpan penasaran ketika dirinya tak terpilih untuk menjadi bagian dari timnas The Three Lions di pentas Euro Francis bulan Juni 2016 lalu, Roy Hodgson ketika itu lebih memilih untuk memasukkan nama Jack Wilshere dalam barisannya ketimbang memanggil gelandang kelahiran Manchester ini, Wilshere yang baru sembuh dari cedera lebih mendapat tempat dari pada dirinya yang baru jalankan musim apik bersama Leicester City.

Hingga kini Danny Drinkwater tercatat baru 3 kali dipanggil untuk perkuat squad tim Tiga Singa, dirinya pun bertekad terus bermain bagus baik diliga domestic ataupun dipentas Piala Champions untuk mencuri perhatian Sam Allardyce sebagai manager baru pengganti Roy Hodgson.

Turut memuji salah satu gelandang terbaik yang dimilikinya Claudio Ranieri katakan kalau alumni Manchester United ini sangat pantas mendapatkan kesempatan untuk perkuat timnas Inggris,”Saya suka dengan gaya bermain Drinkwater, dia sangat bagus bermain diwilayahnya dan saya harap penampilannya di Liga Champions musim ini akan menarik perhatian Sam Allardyce karena dia memang pantas menjadi bagian dari The Three Lions”.

Membuka laga pertama The Foxes edisi 2016-17 masih terlihat belum menemukan format yang tepat, Si Rubah harus mengakui keunggulan Hull City dengan score tipis 2-1 kala mereka datang bertandang, akhir pekan mendatang pasukan Claudio Ranieri kembali akan diuji dalam sebuah pertandingan berat melawan Arsenal di King Power Stadium.